LUMINASIA.ID, JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup pada level 6.071,14 pada akhir September 2026, terkoreksi 6,96 persen secara bulanan atau month-to-month (mtm), di tengah meningkatnya volatilitas pasar keuangan global akibat eskalasi ketegangan geopolitik dan kenaikan suku bunga.
Dipaparkan dalam rilis hasil Rapat Dewan Komisioner (RDK) Bulanan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada 30 September 2026, koreksi tersebut membuat kinerja IHSG secara kumulatif sejak awal tahun atau year-to-date (ytd) turun 29,79 persen.
Tekanan di pasar saham juga tercermin dari aksi investor asing yang mencatatkan jual bersih atau net sell sebesar Rp10,24 triliun pada September 2026, berbalik dari posisi beli bersih atau net buy Rp1,19 triliun pada Agustus 2026.
Meski demikian, OJK menilai ketahanan dan likuiditas pasar modal domestik masih terkendali di tengah dinamika pasar global.
Rata-rata selisih harga penawaran jual dan beli atau bid-ask spread saham tercatat 1,20 persen, relatif stabil dibandingkan 1,17 persen pada Agustus 2026.
Sementara itu, rata-rata nilai transaksi harian (RNTH) saham turun menjadi Rp14,94 triliun pada September 2026, dibandingkan Rp15,86 triliun pada bulan sebelumnya.
Di pasar obligasi, Indonesia Composite Bond Index (ICBI) ditutup pada level 439,05 pada akhir September 2026, terkoreksi 0,23 persen secara bulanan dan 0,41 persen secara kumulatif sejak awal tahun.
Imbal hasil atau yield Surat Berharga Negara (SBN) secara rata-rata naik 14,12 basis poin secara bulanan, seiring peningkatan imbal hasil obligasi pemerintah global dan masih tingginya ketidakpastian.
Investor asing di pasar SBN juga mencatatkan net sell sebesar Rp0,34 triliun pada September 2026, setelah membukukan net buy Rp15,35 triliun pada Agustus 2026.
Sebaliknya, aliran dana asing di pasar efek bersifat utang dan sukuk korporasi (EBUS) menunjukkan perkembangan positif dengan net buy Rp0,91 triliun, setelah pada Agustus 2026 mencatatkan net sell Rp0,02 triliun.
Di industri pengelolaan investasi, nilai aset kelolaan atau asset under management (AUM) tercatat Rp1.004,68 triliun pada akhir September 2026, turun 1,55 persen secara bulanan dan 3,65 persen secara kumulatif sejak awal tahun.
Nilai aktiva bersih (NAB) reksa dana juga turun 2,42 persen secara bulanan dan 5,66 persen secara kumulatif sejak awal tahun menjadi Rp637,07 triliun. Investor reksa dana mencatatkan net redemption sebesar Rp10,43 triliun pada periode tersebut.
Sementara itu, sejak instrumen exchange traded fund (ETF) emas diluncurkan pada 10 Agustus 2026 hingga 30 September 2026, telah terbit tujuh produk ETF emas dari tujuh manajer investasi dengan total dana kelolaan Rp105,63 miliar.




