Langsung ke konten
DuaSisi
jmsi sulsel
  • HIBURAN
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
  • VIRAL
  • PERISTIWA
  • SULSEL
  • EDUKASI
  • LIFESTYLE
  • OPINI
  • VIDEO
  • MAKASSAR
  • INDEKS
Beranda Edukasi

Menulis di Balik Kelambu: Kisah Anak Surae Wajo Meraih Profesor Riset

Rabu, 14 Oktober 2026 19:29
Editor: ina iku
  • Bagikan
Jejak Waktu dan Pengabdian: Memoar 70 Tahun Abd. Kadir Massoweang dalam Meniti Ilmu, Kehidupan, dan Ketekunan.

 

JARUM jam menunjuk pukul 02.00 dini hari saat suasana rumah sudah sunyi senyap. Di saat kebanyakan orang terlelap, Abd. Kadir Massoweang justru baru memulai “ritualnya.”Seusai menunaikan salat tahajud dan memanjatkan doa, pria kelahiran Wajo ini, akan duduk menghadap laptop, membuka lembar demi lembar ingatan masa lalu, hingga memasuki waktu subuh.

 

Selama enam bulan, kesunyian sepertiga malam itulah yang menemani sang Profesor Riset menyusun kepingan memorinya. Ia mengingat kembali masa kecilnya di kampung halaman, Surae, sebuah kampung sederhana di Kabupaten Wajo, tempat ia dilahirkan, dibesarkan, dan mulai mengenal kehidupan. 

 

Dari sinilah, ia memulai masa-masa belajarnya di rumah panggung Bugis, hingga perjalanan panjangnya meneliti kehidupan beragama di berbagai pelosok Nusantara.

 

“Boleh saya katakan, buku ini lahir di dalam kelambu. Seperti ilmu tarekat, banyak rahasia yang diajarkan di dalam kelambu,” ujar Prof Abd. Kadir sembari tersenyum, mengibaratkan proses penulisan personalnya ini penuh perenungan spiritual.

 

Pergulatan batin itu kini mewujud dalam sebuah buku setebal 400-an lebih halaman, yang diberi judul Jejak Waktu dan Pengabdian: Memoar 70 Tahun Abd. Kadir Massoweang dalam Meniti Ilmu, Kehidupan, dan Ketekunan. 

 

Buku autobiografi ini diluncurkan melalui webinar yang digelar Pusat Riset Khazanah Keagamaan dan Peradaban, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Rabu, 14 Oktober 2026. 

 

Bagi Prof Abd. Kadir, memoar ini sekaligus kado ulang tahun ke-70 untuk dirinya sendiri pada 31 Desember 2026 mendatang. Juga, penanda menjelang masa purnabaktinya sebagai peneliti per 1 Januari 2027. Menariknya, tulisan ini awalnya ditulis secara rahasia, tanpa sepengetahuan sang istri,di sela-sela kesibukannya menyusun proposal penelitian BRIN.

 

Lapisan Makna dan Otentisitas Bugis

Setelah membaca buku ini, buku ini sebenarnya bukanlah catatan harian orang tua yang tengah merindukan masa lalunya. Narasumber Prof. Dr. H. Mohamad Mulyadi, Direktur Kebijakan Politik, Hukum, Pertahanan, dan Keamanan pada Deputi Kebijakan Pembangunan BRIN, melihat buku tersebut memiliki kedalaman refleksi luar biasa.

 

“Jadi, ini lebih dari sekadar memoar. Menurut saya, ada tiga lapis bacaan yang bisa kita petik dari buku ini. Yang pertama tentang memoar pribadi, kedua sejarah penelitian agama, dan ketiga adalah refleksi intelektual,” kata Prof Mulyadi.

 

Sebagai anak yang tumbuh dari kultur Bugis, Prof Abd. Kadir memegang teguh filosofi yang diambil dari pappaseng atau petuah-petuah Bugis, yakni lempu' (kejujuran), siri' (harga diri dan kehormatan), asitinajang (kepatutan), reso (kerja keras), dan getteng (keteguhan pendirian). 

Filosofi inilah yang kemudian menuntunnya dari seorang guru biasa pada 1984, merangkak naik menjadi aparatur negara, hingga berhasil mengukuhkan diri sebagai Profesor Riset pada 2021.

 

Menulis masa lalu ternyata jauh lebih menguras emosi ketimbang menulis laporan ilmiah. Hal ini dikatakan Prof Abd. Kadir saat berbicara di webinar, yang mengaku kerap meneteskan air mata saat membaca ulang draf tulisannya. 

 

Tantangan teknis juga sering muncul ketika ia harus memeriksa kata-kata dan petuah Bugis secara manual, karena perangkat lunak penulisan digital kerap gagal mendeteksi dengan akurat.

 

Kritik Puncak Karier dan Mahakarya Pengabdian

Perjalanan Abd. Kadir meraih gelar Profesor Riset bukanlah cerita instan. Ia membutuhkan waktu sekitar delapan tahun, sejak pengajuan pada 2013 hingga orasi ilmiah pada 2021, untuk bisa menduduki takhta tertinggi fungsional peneliti tersebut. Proses panjang ini dipenuhi revisi, masukan, dan kritik tajam dari para senior.

 

“Kritik senior menjaga marwah jabatan akademik,” tegas ProfMulyadi.

 

Meski memuji konsistensi kepakaran Prof Abd. Kadir, Mulyadi juga melontarkan pertanyaan reflektif yang bernada kritik sosial: “Apakah tangga ini masih tersedia bagi anak kampung hari ini? Bagaimana kondisi anak kampung hari ini?” Ini semacam kegelisahan tentang apakah sistem riset modern saat ini masih ramah bagi talenta-talenta daerah dari pelosok kampung.

 

Meski berhalangan hadir secara langsung di webinar, narasumber Prof. Dr. H Barsihannor, akademisi dari UIN Makassar, memberikan apresiasi tinggi terhadap dedikasi sahabatnya ini. Ia menyebut buku tersebut adalah sebuah potret utuh dari totalitas seorang ilmuwan.

 

“Sebuah mahakarya yang berisi tentang sejarah pengabdian, jejak-jejak dan langkah pengabdian, baik sebagai akademisi, peneliti, maupun tokoh masyarakat,” kata Barsihannor, lewat tayangan video yang ia buat khusus untuk webinar ini. 

 

Prof Barsihannor juga mengenang bagaimana rumah Abd. Kadir sejak masa pascasarjana selalu terbuka lebar menjadi episentrum, atau tempat berkumpulnya rekan-rekannya untuk berdiskusi dan bertukar pengetahuan.

 

Herry Jogaswara, Kepala Organisasi Riset Arkeologi, Bahasa, dan Sastra BRIN, yang membuka kegiatan webinar ini menyatakan, buku Prof Kadir ini merupakan contoh baik bagi para peneliti yang akan memasuki masa pensiun. 

 

“Berakhirnya masa kerja secara administratif, tidak berarti berakhir pula kontribusi intelektual seseorang,” katanya.

 

Herry mengenang Prof Kadir sebagai sosok yang aktif bertanya, humoris, tajam dalam diskusi, namun tetap bijaksana dalam menyampaikan pandangan. “Pengalaman panjang seorang peneliti perlu didokumentasikan agar dapat dipelajari oleh generasi berikutnya,” jelas Herry.

 

Kesadaran akan pentingnya regenerasi disadari betul juga oleh Prof Abd. Kadir. Ia mengingat kembali jasa para mentor seniornya di Balai Litbang Agama Makassar (BLAM), seperti Pat Badrun, Ahmad Rahman, Abd. Shaddiq Kawu, Prof. Dr. Arifuddin Ismail, dan Muhammad As’ad yang mendidiknya di masa muda. 

 

“Tanggung jawab seorang pemimpin riset tidak boleh berhenti pada ego menghasilkan karya sendiri. Mereka juga wajib memberi ruang bagi peneliti junior untuk tumbuh dan berkembang,” ucapnya.

 

Warisan yang Melampaui Jabatan

Prof Dr. H. Hamdar Arraiyyah, Peneliti Ahli Utama BRIN sekaligus sahabat Abd. Kadir sejak 1975 di Fakultas Adab IAIN Alauddin Ujung Pandang, memandang tradisi menulis autobiografi ini sebagai langkah yang mulia.

 

Ia menyebut tulisan ini sebagai sunnah hasanah, sebuah praktik positif yang patut ditiru oleh peneliti dan aparatur sipil negara (ASN) lainnya. Di mata Hamdar, Abd. Kadir sejak usia 19 tahun adalah sosok pemuda dari Surae, Wajo, yang cerdas, energik, tekun, dan disiplin dalam mengelola dokumen pertanggungjawaban pekerjaan.

 

Sementara itu, pengalaman yang dikenang oleh rekan-rekannya Prof Abd. Kadir adalah penggendongan. Istilah ini merujuk kepada peneliti senior yang membimbing peneliti junior, dengan melibatkan mereka meneliti bersama dilapangan. 

 

“Selama di lapangan, kami diajari bagaimana wawancara informan, mencari data, mereduksi data, hingga membuat laporan dan jurnal artikel,” kata beberapa peneliti.  

 

Dalam bukunya, Prof Abd. Kadir juga juga menceritakan pengalaman ketika baru memasuki dunia penelitian. Sebagai pegawai baru, peneliti senior melibatkan dirinya dalam penyusunan proposal, penyiapan instrumen, penelitian lapangan, pengolahan data, hingga penyusunan laporan.

 

Ia menyebut para peneliti senior yang membimbingnya itu sebagai guru-guru yang memperkenalkannya kepada dunia penelitian secara profesional. Dari merekalah, ia kemudian belajar tentang ketelitian, kejujuran akademik, tanggung jawab ilmiah, dan pentingnya terus belajar dari masyarakat.

 

Pengalaman tersebut coba ia teruskan kepada peneliti muda. Dalam bukunya ini, ia menulis tentang upayanya memberi ruang kepada peneliti muda untuk berdiskusi, meneliti bareng,menyusun proposal, melakukan penelitian lapangan, menganalisis data, hingga menulis karya ilmiah.

 

“Seorang pemimpin tidak hanya bertugas menghasilkan karya, tetapi juga membantu melahirkan peneliti baru yang mampu melampaui capaian generasi sebelumnya,” katanya.

 

Sebagai penutup, Dr. Wuri Handoko, Kepala Pusat Riset Khazanah Keagamaan dan Peradaban BRIN, menyatakan, mulai mengenal Prof Abd. Kadir saat mereka sama-sama berada di BRIN. 

 

“Pertemuan pertama saya sebagai Kepala PR KKP dengan Prof Kadir terjadi di Makassar. Beliau bahkan menjemput kedatangan kami di Bandara Hasanuddin,” ujar Wuri Handoko, mengenang pertemuan perdananya. 

 

Wuri Handoko memberikan apresiasi atas lahirnya buku autobiografi ini. “Selain menceritakan keberhasilannya, Prof Kadir juga menceritakan berbagai kegagalan, pengorbanan, dan pergulatan batinnya. Ini yang membuat memoar terasa hidup dan tentunya menginspirasi,” kata Wuri Handoko. 

 

Kehadiran buku Jejak Waktu dan Pengabdian menandai fase penting dalam kehidupan Prof Abd. Kadir Massoweang. Dengan karyanya ini, ia berhasil merangkum empat dekade pengalaman lapangannya menjadi refleksi pribadi. 

 

Hal ini sekaligus juga menjadi memoar yang membawa pesan bagi dunia akademik, bahwa warisan sejati seorang ilmuwan terletak pada pengetahuan yang melampaui batas usia administratif jabatan. (*)

 

 


Baca Juga

Prime Plaza Kini Kelola 13 Hotel dan Resor, Midscale hingga Bintang 5
Prime Plaza Kini Kelola 13 Hotel dan Resor, Midscale hingga Bintang 5
Honda ADV160 Trico Edition Meluncur Tampil dengan Warna Racing Tiga Warna
Honda ADV160 Trico Edition Meluncur Tampil dengan Warna Racing Tiga Warna
11 Pilihan Motor Sport Honda, dari CB150 Verza hingga CRF250 Rally
11 Pilihan Motor Sport Honda, dari CB150 Verza hingga CRF250 Rally
Motor Honda Terasa Berat Setelah Servis? Ini Penyebab dan Cara Mengatasinya
Motor Honda Terasa Berat Setelah Servis? Ini Penyebab dan Cara Mengatasinya
Unismuh Makassar Latih 113 Pendamping Halal, Bantu UMK Hadapi Tenggat Sertifikasi
Unismuh Makassar Latih 113 Pendamping Halal, Bantu UMK Hadapi Tenggat Sertifikasi
Nikah Massal Gratis Makassar Diserbu 1.181 Pendaftar, Legalitas Pernikahan Siri Jadi Prioritas
Nikah Massal Gratis Makassar Diserbu 1.181 Pendaftar, Legalitas Pernikahan Siri Jadi Prioritas

Populer

  • 1
    Menulis di Balik Kelambu: Kisah Anak Surae Wajo Meraih Profesor Riset
  • 2
    TKA 2026 Digelar 26 Oktober, Durasi Ujian Matematika Bertambah Jadi 75 Menit
  • 3
    PJM Jalankan Layanan Ship-to-Ship di Nipa, Bidik Peluang Bisnis Maritim Internasional
  • 4
    Klub Sepatu Roda Indonesia Muda Raih 11 Medali di EIRC 2026
  • 5
    OJK Perketat Aturan Biaya Pindar, Penyelenggara Tak Transparan Terancam Sanksi

Ekonomi

  • Prime Plaza Kini Kelola 13 Hotel dan Resor, Midscale hingga Bintang 5
    Prime Plaza Kini Kelola 13 Hotel dan Resor, Midscale hingga Bintang 5
  • Unismuh Makassar Latih 113 Pendamping Halal, Bantu UMK Hadapi Tenggat Sertifikasi
    Unismuh Makassar Latih 113 Pendamping Halal, Bantu UMK Hadapi Tenggat Sertifikasi
  • Bos Asmo Sulsel Ajak Siswa MA Bhayangkara Nurul Qamar Rajin Membaca dan Kejar Cita-Cita
    Bos Asmo Sulsel Ajak Siswa MA Bhayangkara Nurul Qamar Rajin Membaca dan Kejar Cita-Cita

Peristiwa

  • Honda Berjaya di Moto4 Asia Cup 2026 Mandalika, Sabet 2 Podium
    Honda Berjaya di Moto4 Asia Cup 2026 Mandalika, Sabet 2 Podium
  • TKA 2026 Digelar 26 Oktober, Durasi Ujian Matematika Bertambah Jadi 75 Menit
    TKA 2026 Digelar 26 Oktober, Durasi Ujian Matematika Bertambah Jadi 75 Menit
  • Tawakkal Kahar Nahkodai MGMP Pendidikan Pancasila SMA Kota Makassar
    Tawakkal Kahar Nahkodai MGMP Pendidikan Pancasila SMA Kota Makassar
  • Beranda
  • Tentang Kami
  • Struktur
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Indeks
© 2024 - 2026 LUMINASIA.ID