LUMINASIA.ID, JAKARTA – Indeks literasi keuangan masyarakat berusia 51-79 tahun tercatat 54,55 persen berdasarkan Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2025, lebih rendah dibandingkan indeks inklusi keuangan kelompok usia tersebut yang mencapai 66,88 persen.
Data survei yang dilakukan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama Badan Pusat Statistik (BPS) itu menunjukkan pentingnya memperkuat pemahaman keuangan bagi kelompok lanjut usia (lansia) dan pensiunan seiring dengan perluasan akses layanan keuangan digital.
Secara nasional, SNLIK 2025 mencatat indeks inklusi keuangan mencapai 80,51 persen, sedangkan indeks literasi keuangan berada di angka 66,46 persen.
Bulan Inklusi Keuangan (BIK) yang berlangsung setiap Oktober menjadi momentum untuk memperluas akses masyarakat terhadap layanan keuangan sekaligus meningkatkan pemahaman dalam menggunakannya secara aman dan sesuai kebutuhan.
PT Bank Mandiri Taspen atau Bank Mantap menjadi salah satu bank yang berfokus melayani segmen pensiunan dan prapensiun melalui pengembangan produk serta layanan yang menyesuaikan kebutuhan nasabah senior.
Salah satu produk yang ditawarkan adalah Mandiri Taspen Auto Loan (MAL), fasilitas pembiayaan kendaraan yang dapat diakses nasabah hingga usia 68 tahun, dengan masa pelunasan kredit maksimal hingga usia 70 tahun sesuai ketentuan produk.
Akses perbankan juga diperluas melalui aplikasi Movin by Mantap Mobile. Nasabah dapat memanfaatkan layanan tersebut untuk mengecek saldo, melakukan transfer, membayar tagihan, menggunakan QRIS hingga tarik tunai.
Bank Mandiri Taspen juga menyediakan layanan digital lending untuk pengajuan top-up kredit melalui Movin. Bagi nasabah yang membutuhkan layanan secara langsung, tersedia mobil layanan keliling untuk mendekatkan akses perbankan ke berbagai wilayah.
Selain layanan keuangan, Bank Mandiri Taspen menjalankan program Mantap Indonesia yang terdiri atas Mantap Sehat, Mantap Aktif, dan Mantap Sejahtera. Program tersebut mencakup kegiatan kesehatan, aktivitas sosial, serta pemberdayaan agar nasabah pensiunan tetap aktif dan produktif setelah masa kerja.
Perluasan akses tersebut perlu diikuti pendampingan dan peningkatan literasi keuangan, terutama bagi nasabah senior yang masih beradaptasi dengan transaksi digital dan menghadapi risiko penipuan maupun penyalahgunaan data pribadi.
Upaya edukasi juga dilakukan melalui kegiatan Financial Healing 2026 yang digelar Katadata bersama OJK dan Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) di Taman Literasi Martha Tiahahu, Jakarta, Sabtu (3/10/2026).
Pemimpin Redaksi Katadata, Yura Syahrul, mengatakan pemahaman terhadap instrumen keuangan membantu masyarakat mengelola keuangan untuk kebutuhan saat ini dan masa depan.
“Dengan memahami dan mengenal baik instrumen keuangan, akan membuat kita bisa lebih dapat mengelola keuangan. Tidak hanya untuk hari, ini tapi juga masa depan,” ujar Yura, Sabtu (3/10/2026).
Kegiatan tersebut mengusung tema “Cerdas Literasi Keuangan Digital: Cerdas Bertransaksi, Bijak Berinvestasi” dan menghadirkan pertunjukan Wayang Kuliterasi dengan lakon “Pandawa Kalah Judol” sebagai salah satu pendekatan edukasi keuangan kepada masyarakat.
Penguatan inklusi keuangan bagi lansia dan pensiunan dengan demikian tidak hanya berkaitan dengan kemudahan mengakses produk dan layanan, tetapi juga kemampuan memahami manfaat, biaya, serta risiko sebelum menggunakan layanan keuangan.




