LUMINASIA, Washington, D.C. — Kemunculan instalasi raksasa di National Mall, Washington, D.C., pada Senin (19/1), kembali membuka luka lama terkait kasus kekerasan seksual yang melibatkan mendiang miliarder Jeffrey Epstein. Di balik kontroversi visual dan polemik politik, aksi ini mengingatkan publik pada inti persoalan yang kerap terpinggirkan: para korban perdagangan dan kekerasan seksual yang hingga kini belum sepenuhnya mendapatkan keadilan.
Dilansir Yahoo, Jeffrey Epstein, yang meninggal dunia di penjara pada 2019 saat menghadapi dakwaan perdagangan seks anak, dikenal sebagai pusat jaringan eksploitasi seksual yang melibatkan perempuan dan anak di bawah umur. Meski bertahun-tahun berlalu, banyak dokumen terkait kasus ini masih belum dibuka sepenuhnya ke publik, memicu kritik dari kelompok advokasi korban kekerasan seksual.
Kelompok aktivis The Secret Handshake, yang mengklaim bertanggung jawab atas instalasi tersebut, menyatakan bahwa aksi mereka bertujuan menekan pemerintah agar lebih transparan dalam menangani arsip kasus Epstein. Menurut mereka, lambannya pengungkapan dokumen bukan hanya soal politik atau figur publik, tetapi berdampak langsung pada pengakuan penderitaan korban yang selama ini dibungkam oleh kekuasaan dan uang.
Organisasi pendamping korban kekerasan seksual menilai kasus Epstein sebagai simbol kegagalan sistem hukum dalam melindungi korban eksploitasi seksual kelas bawah ketika berhadapan dengan pelaku berpengaruh. “Setiap kali fokus publik bergeser ke skandal politik, kita lupa bahwa ada perempuan dan anak yang hidupnya hancur akibat kekerasan seksual,” ujar seorang aktivis hak korban di Washington.
Instalasi tersebut juga menyediakan ruang partisipasi publik, di mana pengunjung dapat menuliskan pesan solidaritas atau tuntutan keadilan. Banyak pesan yang ditinggalkan menyinggung trauma korban, tuntutan akuntabilitas, serta kritik terhadap budaya impunitas yang memungkinkan predator seksual beroperasi selama bertahun-tahun tanpa hukuman setimpal.
Pengamat hukum menekankan bahwa membuka seluruh arsip Epstein bukan semata-mata soal mengungkap siapa saja yang terlibat, melainkan bentuk pengakuan negara terhadap penderitaan korban. Transparansi dinilai penting untuk mencegah terulangnya pola eksploitasi serupa di masa depan.
Kasus Epstein terus menjadi pengingat bahwa kekerasan seksual, terutama yang melibatkan jaringan elit, sering kali tertutup oleh kekuasaan dan pengaruh. Instalasi di National Mall ini, terlepas dari kontroversinya, kembali menempatkan korban di pusat perhatian publik — sebuah hal yang selama ini terlalu sering terabaikan.

