LUMINASIA.ID, NASIONAL - Nama Low Tuck Kwong kembali menguat di ruang publik setelah ia memenangkan lelang lukisan “Kuat Laksana Kuda Api” karya Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono dengan harga Rp 6,5 miliar dalam perayaan Imlek 2026 di Djakarta Theater, Jakarta. Namun, di balik angka fantastis itu, ada narasi lain yang menarik: bagaimana seorang taipan batu bara memposisikan diri dalam lanskap ekonomi, sosial, dan simbolik Indonesia hari ini.
Lebih dari Sekadar Kolektor
Dilansir Kompas, lelang tersebut bukan sekadar transaksi seni. Dalam konteks sosial-politik, kehadiran Low Tuck Kwong di panggung lelang karya SBY memperlihatkan bagaimana elite bisnis Indonesia memainkan peran dalam ruang-ruang simbolik—mulai dari filantropi, jejaring politik, hingga diplomasi budaya.
Low bukan sosok baru dalam dunia bisnis. Ia adalah pendiri PT Bayan Resources Tbk (BYAN), salah satu eksportir batu bara terbesar di Indonesia. Sejak melantai di Bursa Efek Indonesia pada 2008, Bayan Resources menjadi tulang punggung kekayaannya. Forbes mencatat kekayaannya pada akhir 2025 mencapai sekitar US$23,7 miliar, menempatkannya di posisi kedua orang terkaya di Indonesia.
Namun, langkahnya memenangkan lukisan bernilai miliaran rupiah membuka sisi lain: partisipasi dalam ekosistem seni dan kegiatan sosial yang kerap menjadi ruang pertemuan antara pengusaha, politisi, dan publik.
Transformasi Energi dan Reputasi
Menariknya, Low Tuck Kwong tidak hanya bergerak di sektor batu bara. Ia juga mengendalikan Metis Energy berbasis di Singapura, yang bergerak di bidang energi terbarukan. Diversifikasi ini sering dibaca sebagai strategi jangka panjang di tengah transisi energi global.
Dalam konteks tersebut, aksi di ruang seni dan filantropi bisa dilihat sebagai bagian dari repositioning—membangun citra bukan hanya sebagai raja batu bara, tetapi juga sebagai figur yang terlibat dalam kegiatan sosial dan kebudayaan.
Lelang lukisan “Kuda Api” yang awalnya dibuka Rp 200 juta dan melonjak hingga Rp 6,5 miliar menunjukkan bagaimana simbol kepemimpinan dan kekuatan—tema utama karya SBY—resonansinya tidak hanya artistik, tetapi juga politis dan ekonomis.
Jejak Panjang dari Singapura ke Indonesia
Lahir di Singapura pada 17 April 1948, Low memulai karier dari bisnis konstruksi keluarga sebelum pindah ke Indonesia pada awal 1970-an. Pada akhir 1990-an, ia membeli tambang pertamanya melalui PT Gunungbayan Pratamacoal, yang menjadi fondasi berdirinya Bayan Resources.
Perjalanannya mencerminkan tipikal konglomerat Asia Tenggara generasi lama: memulai dari sektor riil, memperluas jejaring, lalu mengonsolidasikan posisi melalui pasar modal.
Simbol Kuasa dan Momentum Imlek
Peristiwa lelang yang berlangsung dalam perayaan Imlek Partai Demokrat menambah lapisan makna. Imlek identik dengan simbol keberuntungan dan pembaruan. Sementara “Kuda Api” merepresentasikan kekuatan dan daya juang.
Ketika Low menutup lelang dengan tawaran Rp 6,5 miliar, publik tidak hanya melihat angka, tetapi juga pesan: pengaruh ekonomi masih menjadi aktor kunci dalam panggung kebudayaan dan politik Indonesia.
Di tengah dinamika ekonomi global dan tekanan transisi energi, langkah-langkah simbolik seperti ini sering kali berbicara lebih lantang daripada laporan keuangan.

