LUMINASIA.ID, Greenland — Peristiwa mega-tsunami setinggi sekitar 200 meter (650 kaki) yang terjadi di Dickson Fjord, Greenland timur, pada September 2023 kini dipandang sebagai ancaman serius baru bagi keselamatan pelayaran global, terutama di wilayah Arktik yang kian ramai dilalui kapal wisata dan riset.
Dilansir CNN, meski tidak menimbulkan korban jiwa, para ilmuwan menegaskan bahwa dampaknya bisa jauh lebih fatal jika kejadian serupa terjadi saat kapal pesiar atau kapal riset melintas di kawasan tersebut.
Tsunami raksasa ini dipicu oleh longsoran gunung besar akibat mencairnya gletser di kaki lereng. Runtuhan batu dan es yang jatuh ke fjord sempit menciptakan gelombang ekstrem yang terperangkap selama lebih dari sembilan hari, menciptakan osilasi air berulang setiap 90 detik.
Fenomena ini bukan hanya merusak situs budaya berusia ratusan tahun dan fasilitas militer kosong, tetapi juga mengungkap risiko baru yang sebelumnya tak diperhitungkan dalam peta keselamatan laut Arktik.
Jalur Kapal yang Semakin Ramai, Risiko Kian Tinggi
Dickson Fjord diketahui berada di rute yang kerap dilalui kapal pesiar Arktik. Dalam studi yang dipublikasikan di jurnal Science, para peneliti menyebutkan bahwa jika satu kapal saja berada di lokasi saat tsunami terjadi, konsekuensinya bisa sangat menghancurkan.
“Wilayah ini sebelumnya tidak pernah mengalami longsoran dan tsunami sebesar ini,” ujar geolog dari Geological Survey of Denmark and Greenland. Artinya, zona-zona baru di Arktik kini ‘aktif’ secara geologis akibat pemanasan global.
Dalam beberapa dekade terakhir, Arktik memanas empat kali lebih cepat dibandingkan rata-rata global, membuat lereng gunung yang sebelumnya stabil kini rawan runtuh.
Bukan Hanya Greenland
Ancaman serupa tidak terbatas di Greenland. Para ilmuwan memperingatkan bahwa fjord sempit dengan karakteristik serupa juga terdapat di Alaska, Kanada, dan Norwegia, wilayah yang sama-sama mengalami percepatan pencairan es dan peningkatan aktivitas wisata.
Pada 2017, tsunami akibat longsoran di Greenland barat laut menewaskan empat orang dan menghancurkan permukiman. Peristiwa terbaru ini dinilai sebagai sinyal keras bahwa risiko bencana ekstrem di wilayah dingin semakin meningkat.
Alarm untuk Industri Wisata dan Transportasi Laut
Para peneliti menilai kejadian ini harus menjadi peringatan dini bagi industri pelayaran, wisata Arktik, dan otoritas maritim internasional. Sistem pemantauan, pemetaan risiko, dan peringatan dini perlu diperbarui untuk menghadapi ancaman yang sebelumnya dianggap mustahil.
“Ini menunjukkan bahwa perubahan iklim tidak hanya mengubah cuaca, tetapi juga stabilitas daratan dan keselamatan laut,” kata salah satu peneliti.
Mega-tsunami di Greenland menjadi bukti bahwa krisis iklim kini menciptakan risiko baru yang bergerak lebih cepat daripada kesiapan manusia mengantisipasinya.

