LUMINASIA.ID, BOLA - Riuh kabar mengenai dugaan diskualifikasi Ratchaburi FC dari ajang AFC Champions League Two (ACL 2) musim 2025/2026 terus bergulir di media sosial. Namun alih-alih berfokus pada kontroversi keputusan wasit atau penggunaan Video Assistant Referee (VAR), ada aspek lain yang jarang dibahas: bagaimana sebenarnya mekanisme regulasi AFC jika sebuah klub benar-benar didiskualifikasi?
Isu yang berkembang menyebutkan bahwa Persib Bandung berpeluang lolos menggantikan posisi wakil Thailand tersebut. Narasi ini banyak dikaitkan dengan dugaan kesalahan penggunaan VAR dalam pertandingan babak 16 besar. Namun secara regulasi, VAR hampir mustahil menjadi dasar diskualifikasi.
Diskualifikasi Bukan Karena Keputusan Wasit
Dalam regulasi kompetisi AFC, diskualifikasi umumnya terjadi karena pelanggaran administratif atau disipliner berat, seperti penggunaan pemain tidak sah (ineligible player), pelanggaran lisensi klub, masalah finansial serius, manipulasi pertandingan, atau sanksi etik berat dari badan disiplin.
Keputusan pertandingan—termasuk kontroversi VAR—bersifat final di lapangan kecuali terdapat kesalahan administratif yang terbukti secara formal. Artinya, ketidakpuasan terhadap keputusan wasit tidak otomatis membuka ruang diskualifikasi.
Bahkan dalam banyak preseden turnamen Asia, protes klub terkait VAR biasanya berujung pada evaluasi internal perangkat pertandingan, bukan pembatalan hasil laga atau penggantian peserta di fase gugur.
Jika Didiskualifikasi, Siapa yang Mengganti?
Secara teoritis, apabila sebuah klub didiskualifikasi setelah babak gugur berjalan, AFC memiliki beberapa opsi:
-
Menghadiahkan kemenangan walkover kepada lawan pada fase tersebut.
-
Membatalkan seluruh hasil pertandingan klub yang bersangkutan.
-
Dalam kasus ekstrem, menunjuk lawan terakhir sebagai pihak yang melaju.
Namun, keputusan tersebut bergantung pada waktu dan jenis pelanggaran. Jika pelanggaran terjadi sebelum leg kedua selesai, peluang lawan untuk naik terbuka. Tetapi jika kompetisi sudah bergerak ke tahap berikutnya, keputusan menjadi lebih kompleks dan tidak otomatis menguntungkan tim yang kalah agregat.
Dalam konteks Persib, kemenangan 1-0 di leg kedua tetap harus dilihat dalam bingkai agregat dua leg. Tanpa adanya pelanggaran administratif dari Ratchaburi, hasil pertandingan tetap sah.
Realitas di Lapangan Hijau
Terlepas dari rumor, hingga kini belum ada pengumuman resmi dari AFC mengenai sanksi terhadap Ratchaburi FC. Tanpa pernyataan resmi, klaim diskualifikasi masih sebatas spekulasi.
Bagi Bobotoh, penting untuk memisahkan harapan dengan fakta regulasi. Kompetisi Asia diatur dengan sistem disiplin ketat dan prosedur investigasi formal. Setiap sanksi diumumkan melalui kanal resmi federasi, bukan melalui bocoran media sosial.
Edukasi Publik Soal VAR
VAR sendiri berfungsi sebagai alat bantu wasit, bukan entitas pengambil keputusan akhir. Operator VAR hanya merekomendasikan tinjauan ulang; keputusan tetap berada di tangan wasit utama. Kesalahan interpretasi tidak termasuk kategori pelanggaran administratif yang dapat memicu diskualifikasi klub.
Dengan demikian, wacana bahwa Ratchaburi terdepak karena kesalahan VAR secara regulasi tidak memiliki pijakan kuat.
Menunggu Kepastian Resmi
Hingga ada rilis resmi dari AFC, posisi Persib di ACL 2 tetap ditentukan oleh hasil sah pertandingan. Euforia boleh saja muncul, tetapi dalam kompetisi level Asia, kepastian selalu datang dari dokumen resmi, bukan dari viralitas.
Di tengah derasnya arus informasi, publik sepak bola Indonesia perlu bersikap kritis. Dalam sepak bola modern, aturan berbicara lebih keras daripada rumor.

