LUMINASIA.ID, Sidoarjo — Keputusan Deltras FC melepas pelatih kepala Widodo Cahyono Putro bukan sekadar soal memberi ruang bagi karier individu, tetapi juga menjadi ujian bagi kestabilan tim di tengah kompetisi Championship 2025-2026 yang masih berjalan.
Dilansir Kompas Bola, di balik langkah tersebut, manajemen Deltras justru menegaskan fokus utama mereka saat ini: menjaga konsistensi performa tim agar tetap kompetitif di papan atas. Kepergian Widodo memang meninggalkan celah besar, mengingat kontribusinya dalam membentuk identitas permainan dan mengangkat performa klub dalam dua musim terakhir.
CEO Deltras FC, Amir Burhannudin, menilai transisi ini sebagai bagian dari dinamika sepak bola profesional yang tak terhindarkan. Namun, alih-alih terjebak dalam situasi kehilangan, klub langsung bergerak cepat dengan menunjuk Nurul Huda sebagai pelatih sementara.
Langkah ini dinilai krusial untuk menjaga ritme tim yang sudah terbentuk. Apalagi, Deltras masih berada dalam persaingan ketat di Grup 2 Championship, di mana setiap poin menjadi penentu peluang menuju fase berikutnya.
Penunjukan Hariono sebagai asisten pelatih juga memberi sinyal bahwa klub ingin mempertahankan fondasi internal. Sosok Hariono yang berpengalaman di sepak bola nasional diharapkan mampu menjaga keseimbangan ruang ganti sekaligus menjadi jembatan antara pemain dan staf pelatih.
Dari sisi teknis, tantangan terbesar Deltras saat ini adalah mempertahankan pola permainan yang telah dibangun Widodo tanpa mengalami penurunan performa. Dalam beberapa musim terakhir, tim dikenal dengan pendekatan taktik progresif serta keberanian memberi kesempatan kepada pemain muda—dua aspek yang menjadi ciri khas kepelatihannya.
Kini, fokus beralih pada bagaimana warisan tersebut bisa dilanjutkan. Transisi kepelatihan di tengah musim sering kali berisiko mengganggu stabilitas tim, namun juga bisa menjadi momentum untuk memperkuat mental kolektif skuad.
Dengan jadwal kompetisi yang segera berlanjut usai jeda, Deltras FC menghadapi fase krusial. Keberhasilan melewati masa transisi ini akan sangat menentukan apakah mereka mampu menjaga posisi di papan atas—atau justru kehilangan momentum di saat yang paling menentukan musim.

