LUMINASIA.ID, MAKASSAR – Primaya IVF Makassar resmi berganti nama menjadi Smart Fertility Clinic (SFC) Makassar/
Rebranding ini disertai pengembangan fasilitas laboratorium embriologi dan pemanfaatan teknologi reproduksi berbantu, termasuk kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) untuk seleksi embrio.
Demikian dipaparkan CEO Smart Fertility Clinic, dr. Laura Leandra Setiawan, dalam acara konfrensi pers bertajuk A New Journey Begins” di RS Primaya, Lantai 9, Jalan Urip Sumoharjo, Makassar, Sabtu (24/10/2026).
dr Laura mengatakan perubahan nama tersebut menjadi bagian dari upaya meningkatkan kualitas pelayanan bagi pasangan yang menjalani program kehamilan.
“Tagline yang kami usung adalah New Name, Same Commitment. Jadi, meskipun namanya baru, komitmen kami tetap sama,” ujarnya
Ia menjelaskan, Primaya IVF telah beroperasi di Makassar selama tiga tahun dan membantu ratusan pasangan dalam menjalani program kehamilan.
Smart Fertility Clinic kini menyediakan berbagai pilihan layanan, mulai dari program hamil alami, inseminasi, hingga bayi tabung atau in vitro fertilization (IVF).
Dari sisi fasilitas, klinik meningkatkan layanan laboratorium embriologi, salah satunya melalui penggunaan time-lapse incubator untuk membantu pemantauan perkembangan embrio.
Klinik tersebut juga menyediakan sejumlah teknologi dan metode pemeriksaan, seperti PGT-A, PGT-M, PICSI, ICSI, serta seleksi embrio berbasis AI.
Menurut Laura, pemanfaatan teknologi tersebut merupakan bagian dari upaya memberikan penanganan yang sesuai dengan kondisi dan kebutuhan medis setiap pasien.
Smart Fertility Clinic Makassar saat ini didukung lima dokter, terdiri atas empat dokter spesialis obstetri dan ginekologi serta satu dokter spesialis andrologi yang menangani masalah kesehatan reproduksi pria.
Laura mengungkapkan, berdasarkan data kasus yang disampaikan pihak klinik, sekitar 60 persen permasalahan kesuburan yang ditemukan selama tiga tahun pelayanan di Makassar berkaitan dengan faktor pria, terutama masalah sperma.
“Permasalahan pria ini sering kali tersembunyi karena pemeriksaan biasanya lebih dahulu difokuskan pada perempuan. Setelah diperiksa lebih lanjut, ternyata permasalahan kesuburan justru ditemukan pada pihak pria,” jelasnya.
Selain faktor pria, kondisi pada perempuan, seperti sindrom ovarium polikistik atau polycystic ovary syndrome (PCOS) dan endometriosis, juga dapat memengaruhi proses kehamilan.
Karena itu, Laura menekankan pentingnya pemeriksaan kesuburan bagi kedua pasangan sejak awal, termasuk analisis sperma, untuk membantu mengidentifikasi kemungkinan penyebab dan menentukan penanganan yang sesuai.
Ia juga mengungkapkan bahwa klinik tersebut pernah menangani pasien berusia 48 tahun yang berhasil menjalani program bayi tabung. Sementara itu, pasien termuda yang menjalani program tersebut berusia 27 tahun dengan riwayat operasi dan kadar hormon anti-Müllerian (AMH) yang cukup rendah.
Menurut Laura, usia merupakan salah satu faktor yang perlu diperhatikan dalam perencanaan kehamilan. Edukasi dan pemeriksaan dini diperlukan agar pasangan memahami kondisi kesuburan serta pilihan penanganan yang tersedia.
Sementara itu, Director of Medical & Scientific Smart Fertility Clinic, Prof. Dr. dr. Budi Wiweko, Sp.OG, MPH, Subsp. FER, FRANZCOG (Hons), FICRM, menekankan pentingnya pendekatan yang berpusat pada pasien atau patient-centered approach dalam pelayanan fertilitas.
Menurut Budi, konsep Smart Fertility Clinic tidak hanya berfokus pada penggunaan teknologi modern, tetapi juga pada upaya membantu pasien memahami kondisi kesehatan reproduksi, tahapan pemeriksaan, dan pilihan penanganan yang tersedia.
“Pasien perlu memahami kondisi kesehatan reproduksinya, tahapan pemeriksaan, dan pilihan penanganan yang dapat dijalani,” ujarnya.
Ia menjelaskan, pendekatan tersebut diharapkan membuat pasien lebih aktif mengambil keputusan bersama dokter berdasarkan informasi medis yang tepat.
Budi juga menyoroti pentingnya literasi kesehatan reproduksi di tengah melimpahnya informasi melalui media sosial dan berbagai platform digital, termasuk kecerdasan buatan.
Tenaga medis, kata dia, berperan mengarahkan dan mengklarifikasi informasi yang diterima pasien agar dapat dipahami secara benar.
Ia menegaskan bahwa tidak semua teknologi harus digunakan pada setiap pasien. Pemeriksaan dan tindakan medis perlu disesuaikan dengan kebutuhan serta indikasi masing-masing individu.
Selain meningkatkan pelayanan klinis, Smart Fertility Clinic juga mendorong edukasi masyarakat mengenai kesuburan, perencanaan kehamilan, dan gaya hidup sehat. Aktivitas fisik, seperti berjalan kaki dan berolahraga, menjadi bagian dari kebiasaan yang dapat mendukung kesehatan secara umum.
Peluncuran Smart Fertility Clinic Makassar turut dihadiri dokter spesialis, yang menangani pasien di klinik ini.
Yakni dr. Samrichard Rambulangi, Sp.OG, Subsp. FER; Prof. dr. John Rambulangi, Sp.OG, Subsp. FER; dr. Lucia Leonie Levita Stephanie, Sp.OG, M.Kes; Dr. dr. Rahmawati Thamrin, Sp.And; serta dr. Nathalia V. Mappewali, Sp.OG, M.Kes.




