LUMINASIA.ID, PARIS — Debut Jaden Smith sebagai Men’s Creative Director Christian Louboutin lewat koleksi The Working Man di Paris Fashion Week Fall/Winter 2026 bukan sekadar eksperimen artistik. Di balik sepatu berpotongan ekstrem dan presentasi industrial yang tak lazim, tersimpan sebuah taruhan besar: bagaimana rumah mode mewah bertahan di era ketika relevansi budaya sama pentingnya dengan warisan desain.
Dilansir Yahoo, alih-alih menggelar runway konvensional, Louboutin memilih format pameran imersif—sebuah keputusan yang mencerminkan perubahan strategi brand mewah dalam menjangkau generasi baru. Bagi industri, ini bukan hanya soal gaya, melainkan soal arah bisnis dan kepemimpinan kreatif.
Dari desainer ke cultural architect
Penunjukan Jaden Smith menandai pergeseran peran creative director: dari sekadar perancang busana menjadi cultural architect. Smith datang bukan dari sekolah mode, melainkan dari persilangan musik, film, seni visual, dan aktivisme sosial. Perspektif ini tercermin dalam tema The Working Man—sebuah narasi tentang martabat kerja dan sejarah peradaban, jauh dari glamor khas luxury fashion.
Bagi Louboutin, pendekatan ini membuka pintu ke audiens yang lebih muda dan lintas disiplin, tanpa harus mengorbankan identitas merek. Risiko ada, tetapi stagnasi justru dianggap lebih berbahaya.
Risiko komersial yang disengaja
Tak sedikit pelaku industri yang mempertanyakan wearability dan arah komersial koleksi ini. Namun bagi analis fashion, kritik tersebut justru mengonfirmasi strategi yang disengaja: The Working Man tidak diciptakan untuk langsung menjadi best-seller, melainkan sebagai statement positioning.
Di tengah pasar luxury yang semakin kompetitif, diferensiasi naratif menjadi senjata utama. Koleksi ini berfungsi sebagai “pembuka percakapan”, bukan sekadar produk musiman.
Menguji batas tradisi mode
Langkah Louboutin juga mencerminkan tren lebih luas: rumah mode mapan kini berani menantang struktur lama tentang siapa yang “berhak” memimpin arah kreatif. Pendidikan formal desain tak lagi menjadi satu-satunya legitimasi. Pengaruh budaya, visibilitas global, dan kemampuan membangun cerita kini punya bobot yang setara.
Dalam konteks ini, perdebatan seputar Jaden Smith bukan anomali, melainkan gejala dari transisi industri.
Lebih dari sekadar koleksi
Terlepas dari penilaian estetika, The Working Man telah mencapai satu hal krusial: membuat Christian Louboutin relevan dalam percakapan budaya global. Di era ketika perhatian publik menjadi mata uang paling mahal, itu bukan pencapaian kecil.
Jaden Smith mungkin belum menjawab semua ekspektasi, tetapi ia telah memaksa industri untuk bertanya ulang: apakah fashion mewah akan bertahan dengan nostalgia, atau berani mengambil risiko demi masa depan?
Dan bagi Christian Louboutin, jawabannya tampak jelas—risiko kini adalah bagian dari strategi.

