LUMINASIA.ID, NASIONAL - Kabar meninggalnya Adie Indra Dwiyanto atau yang dikenal luas sebagai Romi The Jahat menjadi pukulan berat bagi komunitas punk Tanah Air. Sosok yang pernah berada di formasi awal Marjinal itu bukan sekadar vokalis, melainkan bagian dari generasi yang membentuk identitas musik independen dengan semangat kritik sosial yang kuat.
Dilansir Kompas, melalui unggahan resmi di media sosial, Romi & The Jahats menyampaikan salam perpisahan. Mereka mengenang Romi sebagai sahabat sekaligus keluarga, figur yang berdiri paling depan ketika suara akar rumput membutuhkan corong.
Namun di luar kabar duka, kepergian ini membuat banyak orang kembali menoleh pada jejak panjang yang telah ia tinggalkan.
Pada akhir 1990-an, ketika skena punk Indonesia masih mencari bentuk, Romi sudah hadir dengan karakter vokal keras, lirik lugas, dan keberanian menyuarakan isu ketidakadilan. Bersama Marjinal, ia ikut membangun fondasi bahwa musik independen bisa menjadi medium pendidikan politik dan solidaritas.
Perubahan nama dari AA & AM menjadi Marjinal pada awal 2000-an menandai fase penting gerakan tersebut. Meski kemudian berpisah jalan, api yang dibawa Romi tak pernah padam. Ia melanjutkan lewat proyek Romi Jahat hingga akhirnya membentuk Romi & The Jahats, tetap setia pada garis folk-punk yang intim dengan kehidupan sehari-hari kelas pekerja.
Di berbagai panggung kecil, lapangan komunitas, sampai tur antarkota, Romi dikenal dekat dengan penonton. Tak ada jarak antara musisi dan penggemar. Lagu-lagunya dinyanyikan bersama, diteriakkan seperti manifesto bersama.
Penundaan sejumlah jadwal pertunjukan pada Januari lalu kini terasa berbeda maknanya. Banyak penggemar yang kemudian menyadari bahwa masa-masa itu menjadi jeda terakhir sebelum kabar duka datang.
Hingga saat ini belum ada penjelasan resmi mengenai penyebab wafatnya. Meski begitu, linimasa media sosial telah dipenuhi ucapan kehilangan dari sesama musisi, kolektif, hingga pendengar lama yang tumbuh bersama karya-karyanya.
Bagi komunitas punk, Romi bukan hanya nama panggung. Ia adalah simbol keberanian berkata lantang, hidup sederhana, dan tetap berpihak pada mereka yang kerap terpinggirkan.
Kini suaranya mungkin berhenti, tetapi nyanyian yang ia tinggalkan terus berjalan—diputar, diwariskan, dan diteriakkan kembali oleh generasi berikutnya.
Rest in power, Romi.

