LUMINASIA, KOLKATA — Munculnya kembali wabah virus Nipah di negara bagian West Bengal, India, menjadi peringatan serius bagi komunitas kesehatan global. Meski jumlah kasus terkonfirmasi masih terbatas, karakteristik virus yang mematikan dan belum memiliki obat maupun vaksin membuat otoritas kesehatan meningkatkan kewaspadaan secara maksimal.
Dilansir Newsweek, hingga akhir Januari 2026, lima orang dilaporkan terinfeksi Nipah virus, sementara hampir 100 lainnya harus menjalani karantina ketat. Yang menjadi perhatian khusus, sebagian kasus awal justru terjadi di lingkungan fasilitas kesehatan, melibatkan tenaga medis yang tengah merawat pasien—sebuah sinyal bahaya terkait potensi penularan di rumah sakit.
Para pasien kini dirawat di rumah sakit khusus penyakit menular di wilayah timur Kolkata, dengan protokol isolasi yang diperketat guna mencegah penyebaran lanjutan.
Virus Lama, Ancaman Nyata
Nipah virus bukanlah patogen baru. Virus zoonotik ini pertama kali teridentifikasi pada akhir 1990-an dan dikenal memiliki tingkat kematian yang sangat tinggi, berkisar antara 40 hingga 75 persen menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Meski penularannya relatif terbatas dibandingkan virus pernapasan lain seperti COVID-19, dampaknya jauh lebih mematikan.
Virus ini secara alami hidup pada kelelawar pemakan buah dan dapat menular ke manusia melalui hewan perantara seperti babi, makanan atau minuman yang terkontaminasi, hingga kontak langsung dengan cairan tubuh pasien yang terinfeksi.
Gejala Cepat, Dampak Fatal
Infeksi Nipah biasanya diawali dengan gejala yang tampak ringan seperti demam, batuk, sakit kepala, dan nyeri tenggorokan. Namun dalam hitungan hari, kondisi pasien dapat memburuk drastis. Sebagian penderita mengalami ensefalitis atau peradangan otak yang menyebabkan kejang, penurunan kesadaran, hingga koma dalam waktu singkat.
Tidak adanya pengobatan spesifik membuat perawatan hanya bersifat suportif, seperti menjaga hidrasi dan menangani gejala. Sejumlah terapi eksperimental masih berada pada tahap awal pengembangan dan belum tersedia secara luas.
Kesiapsiagaan Jadi Kunci
Pakar kesehatan menilai wabah ini sebagai pengingat bahwa ancaman penyakit zoonotik masih sangat nyata, terutama di wilayah dengan interaksi dekat antara manusia dan satwa liar. India sendiri telah beberapa kali menghadapi wabah Nipah sebelumnya, terutama di wilayah timur dan selatan negara tersebut.
Meski belum ada laporan kasus di Amerika Serikat atau Eropa, otoritas kesehatan internasional terus memantau situasi. Pembatasan kontak dengan hewan pembawa virus, peningkatan kebersihan, serta deteksi dini menjadi langkah utama pencegahan.
“Wabah Nipah tidak hanya soal jumlah kasus, tapi soal potensi dampak jika sistem kesehatan lengah,” ujar seorang epidemiolog yang terlibat dalam pemantauan regional.
Pelajaran dari Wabah
Kasus ini menegaskan kembali pentingnya kesiapsiagaan global terhadap penyakit menular berbahaya—terutama yang berasal dari hewan. Dengan perubahan iklim dan perluasan aktivitas manusia ke habitat satwa liar, risiko wabah serupa diperkirakan akan terus meningkat.
Bagi dunia, wabah Nipah di India bukan sekadar berita regional, melainkan sinyal bahwa ancaman pandemi berikutnya bisa datang dari virus yang sudah lama dikenal, namun belum sepenuhnya bisa dikendalikan.

