Langsung ke konten
DuaSisi
jmsi sulsel
  • HIBURAN
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
  • VIRAL
  • PERISTIWA
  • SULSEL
  • EDUKASI
  • LIFESTYLE
  • OPINI
  • VIDEO
  • MAKASSAR
  • INDEKS
Beranda Peristiwa

Workshop Suara dan LMC, Jurnalis Sulsel Terapkan AI Hadapi Tantangan Digital

Rabu, 4 Februari 2026 12:32
Editor: diku
  • Bagikan
Para peserta workshop berfoto bersama pasca hari pertama

LUMINASIA.ID, Makassar — Suara.com bekerja sama dengan Local Media Community (LMC) dengan dukungan penuh Google News Initiative (GNI) menyelenggarakan workshop “AI Tools Training for Journalists” di Amaris Hotel Pettarani, Makassar, Sulawesi Selatan, pada 2–3 Februari 2026. Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian pelatihan nasional yang sebelumnya telah digelar di Bandung, Yogyakarta, dan Surabaya, sekaligus menandai pelaksanaan edisi keempat dengan tajuk “Makassar Chapter”.

Workshop ini dirancang sebagai respons atas pesatnya pergeseran teknologi media dan perubahan perilaku audiens digital. Pengetahuan serta pemahaman terhadap kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dinilai telah menjadi keniscayaan bagi insan pers, terutama dalam menghadapi tantangan verifikasi informasi, pendalaman liputan investigasi, dan tuntutan kecepatan produksi berita di era digital.

Sebanyak sekitar 30 peserta yang terdiri dari jurnalis dan personel newsroom dari Makassar dan sejumlah daerah di Sulawesi Selatan, seperti Bulukumba, Parepare, Maros, hingga Luwu, mengikuti pelatihan ini. Mereka mendapatkan pembekalan langsung dari dua trainer berpengalaman, yakni Social Media Coordinator Suara.com Elga Maulina Putri dan Muhammad Yunus selaku Redaktur Suara Sulsel. Keduanya merupakan alumni Training of Trainers (ToT) AI for Journalists yang diselenggarakan oleh Google News Initiative.

Pemimpin Redaksi Suara.com, Suwarjono, dalam sambutannya menekankan bahwa kehadiran AI menghadirkan tantangan sekaligus peluang bagi media daring. Ia menyoroti fenomena AI Overview yang memungkinkan audiens memperoleh ringkasan informasi tanpa perlu mengklik tautan berita. Menurutnya, bagi pembaca hal tersebut tentu memudahkan pencarian informasi, tetapi bagi media menjadi tantangan besar agar audiens tetap masuk dan berinteraksi dengan situs berita.

“Kondisi kehadiran teknologi, termasuk memudahkan audiens ini tidak bisa dihindari. Namun bagaimana media berita merespon dan mengajak awak media termasuk jurnalis untuk menyesuaikan cara menyampaikan berita dan membangun interaksi dengan audiens, terutama generasi muda,” tegas Suwarjono.

Ia juga mengingatkan bahwa AI pada dasarnya tidak membunuh jurnalisme. “Kehadiran AI tidak membunuh jurnalisme. Justru ketidaksiapan teman-teman jurnalislah yang bisa membunuh jurnalisme. Konten berkualitas juga tidak akan dibaca dan berdampak, kalau tidak ada distribusi konten dan algoritme yang mempertemukan dengan pembaca,” ujarnya. Menurut Suwarjono, yang berbahaya justru jika jurnalis tidak mau belajar AI atau teknologi sama sekali.

Menindaklanjuti tantangan tersebut, workshop di Makassar memperkenalkan beragam tools AI dan pendukung digital yang dapat dimanfaatkan jurnalis dalam kerja sehari-hari. Materi pelatihan mencakup penggunaan Google Trends untuk membaca arah dan tren isu, perangkat verifikasi gambar dan video untuk pengecekan fakta, pemanfaatan asisten AI seperti Gemini, hingga alat riset dan investigasi mendalam seperti Pinpoint dan NotebookLM.

Selama 1,5 hari pelatihan atau sekitar 12–13 jam, peserta mengikuti sesi terstruktur mulai dari pengantar, pemaparan materi, tanya jawab, hingga praktik kelompok. Agenda hari pertama diisi dengan sesi Google Trends, verifikasi digital, serta pemanfaatan Gemini. Sementara hari kedua difokuskan pada pendalaman penggunaan Pinpoint dan NotebookLM, yang dilanjutkan dengan praktik kelompok dan presentasi hasil kerja peserta.

Pelatihan ini dirancang tidak hanya untuk mengenalkan teknologi, tetapi juga untuk meningkatkan kapasitas jurnalis dalam mengorganisir data, mengelola riset kompleks, dan memperkuat liputan investigasi secara bertanggung jawab. Peserta diharapkan memiliki penguasaan memadai terhadap berbagai tools AI, sekaligus keahlian verifikasi digital sebagai bagian penting dari etika dan kaidah jurnalistik.

Workshop ini membuka perspektif baru bagi para peserta. Salah satunya dirasakan jurnalis senior Makassar, Kamaruddin Azis. Meski telah lama berkecimpung di dunia jurnalistik, ia mengaku mendapatkan pemahaman mendalam tentang pemanfaatan AI dalam kerja jurnalistik.

“NotebookLM keren banget, bisa bantu bikin infografis, video, hingga voice. Baru hari ini saya tahu cara kerjanya secara detail. Umur bukan batasan belajar AI,” katanya. Ia bahkan berencana menularkan pengetahuan tersebut kepada para citizen journalist agar penggunaan AI tetap berada dalam koridor etika dan kaidah jurnalistik.

Pengalaman para peserta menegaskan bahwa AI tidak semata-mata menjadi ancaman, melainkan alat bantu yang harus dipahami dan dikendalikan. Pelatihan ini juga menekankan bahwa meskipun AI mampu membantu proses kerja, mulai dari riset hingga pengemasan konten, jurnalis tetap menjadi penentu utama kualitas, akurasi, dan nilai etis sebuah karya jurnalistik.

Dalam menghadapi perubahan perilaku audiens dan tantangan ekosistem digital, media didorong untuk lebih serius menggarap platform distribusi seperti Instagram dan TikTok, sekaligus beradaptasi dengan teknologi AI. Dengan pendekatan yang tepat, AI justru dapat memperkuat kerja jurnalis, mempermudah proses produksi, meningkatkan presisi laporan, serta membantu memahami kebutuhan pembaca melalui analisis data dan tren konten.

Namun salah satu peserta Dian Aditya Ning Lestari juga menambahkan sisi gelap AI. "AI masih penuh dengan bias Barat karena dataset mereka kebanyakan memang masih bersumber dari Amerika dan Eropa, mereka belum mengenali bahasa daerah dan jurnalis juga harus mengetahui batasan AI, dan tetap memegang kendali utama dalam penggunaan AI, karena AI juga bisa salah," ujarnya.

Melalui workshop ini, Suara.com, LMC, dan Google News Initiative berharap jurnalis di daerah, khususnya Sulawesi Selatan, semakin siap menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman. AI diposisikan sebagai alat bantu strategis untuk memperkuat jurnalisme berkualitas, sementara integritas, daya kritis, dan tanggung jawab tetap berada di tangan jurnalis itu sendiri.

Tags: Workshop AI

Populer

  • 1
    Harga Emas Hari Ini: Antam Rp2,9 Juta per Gram
  • 2
    Harga Emas Hari Ini Naik, 1 Gram Antam Tembus Rp2,94 Juta
  • 3
    Harga Emas Hari Ini, Antam Pecahan 1 Gram Tembus Rp2,95 Juta
  • 4
    Libur Lebaran 2026 Jadi 7 Hari, Nyepi dan Cuti Bersama Picu Lonjakan Mudik
  • 5
    Hasil Super Bowl: Seattle Seahawks Kalahkan New England Patriots 29-13 di Levi’s Stadium

Ekonomi

  • Harga Emas Hari Ini Antam Turun Rp7.000, 1 Gram Kini Rp2,947 Juta
    Harga Emas Hari Ini Antam Turun Rp7.000, 1 Gram Kini Rp2,947 Juta
  • Harga Emas Hari Ini, Antam Pecahan 1 Gram Tembus Rp2,95 Juta
    Harga Emas Hari Ini, Antam Pecahan 1 Gram Tembus Rp2,95 Juta
  • Gantikan Otto Ardianto, Hermanto Terpilih Komisaris Utama SPJM
    Gantikan Otto Ardianto, Hermanto Terpilih Komisaris Utama SPJM

Peristiwa

  • Makna di Balik Jadwal Imsakiyah Ramadan 2026: Panduan Atur Ritme Ibadah Sejak Dini
    Makna di Balik Jadwal Imsakiyah Ramadan 2026: Panduan Atur Ritme Ibadah Sejak Dini
  • Kepergian Romi The Jahat dan Warisan Perlawanan di Musik Punk Indonesia
    Kepergian Romi The Jahat dan Warisan Perlawanan di Musik Punk Indonesia
  • Lewat Program Candi Positif, Pertamina Perkuat Layanan Kesehatan Terintegrasi Masyarakat Pesisir
    Lewat Program Candi Positif, Pertamina Perkuat Layanan Kesehatan Terintegrasi Masyarakat Pesisir
  • Beranda
  • Tentang Kami
  • Struktur
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Indeks
© 2024 - 2026 LUMINASIA.ID