LUMINASIA.ID, NASIONAL - Kepergian Meriyati Hoegeng pada usia 100 tahun menutup satu bab penting dalam sejarah keteladanan moral di Indonesia. Dikenal luas sebagai istri Jenderal Hoegeng Imam Santoso, Meriyati atau yang akrab disapa Eyang Meri selama puluhan tahun justru memilih hidup jauh dari sorotan, meski berdampingan dengan salah satu figur paling berintegritas dalam sejarah Kepolisian Republik Indonesia.
Di balik reputasi Jenderal Hoegeng sebagai polisi lurus yang tak bisa dibeli, Meriyati Hoegeng memegang peran sunyi namun menentukan. Ia dikenal konsisten menjaga gaya hidup sederhana keluarga, menolak berbagai fasilitas negara yang dianggap berlebihan, serta menanamkan prinsip kejujuran dalam kehidupan sehari-hari. Kesederhanaan itu tetap dijaga bahkan setelah sang suami tak lagi menjabat sebagai Kepala Polri dan memasuki masa pensiun dini pada 1971.
Dalam berbagai kesempatan, keluarga dan kerabat menyebut Meriyati sebagai sosok yang teguh memegang nilai, namun lembut dalam bersikap. Ia tidak pernah tampil sebagai figur publik yang vokal, tetapi kehadirannya menjadi penopang moral bagi Hoegeng ketika menghadapi tekanan politik akibat pengusutan kasus-kasus besar yang melibatkan elite berpengaruh pada akhir 1960-an hingga awal 1970-an.
Meriyati Hoegeng juga dikenal sebagai pengingat bahwa integritas bukan sekadar sikap di ruang publik, melainkan pilihan hidup sehari-hari. Prinsip itu tercermin dari caranya membesarkan anak-anak, mengelola rumah tangga, hingga menyikapi perubahan zaman tanpa meninggalkan nilai dasar yang diyakininya. Hingga usia lanjut, ia tetap hidup bersahaja dan menolak diperlakukan istimewa.
Wafatnya Meriyati Hoegeng bukan hanya kehilangan bagi keluarga, tetapi juga simbol berakhirnya generasi penjaga nilai yang jarang bersuara namun kuat dalam teladan. Di tengah perbincangan publik tentang krisis etika dan kepercayaan terhadap institusi negara, sosok Eyang Meri mengingatkan bahwa integritas sering kali lahir dan dijaga dari ruang paling sunyi: rumah dan keluarga.

