LUMINASIA.ID, INTERNASIONAL - Pesan politik dan identitas kawasan menjadi sorotan utama saat Bad Bunny mengambil alih panggung jeda paruh waktu Super Bowl 60 di Levi’s Stadium. Di tengah gemerlap koreografi dan campuran ritme salsa, merengue, reggaeton hingga Latin trap, megabintang asal Puerto Rico itu mengirimkan ajakan persatuan lintas batas yang terasa jauh melampaui pertandingan antara Seahawks dan Patriots.
Dilansir Yahoo Entertainment, sepanjang kurang lebih 15 menit, Bad Bunny tidak sekadar tampil sebagai penghibur. Ia membawa simbol, narasi, dan penegasan bahwa “America” bukan hanya satu negara, melainkan hamparan benua dan kepulauan dari utara hingga Karibia. Pesan itu diringkas lewat properti bola bertuliskan “Together, We Are America” yang menemaninya di berbagai bagian pertunjukan.
Akar Puerto Rico menjadi pusat cerita. Set panggung menghadirkan kembali “La Casita”, rumah berwarna-warni yang identik dengan tur residensinya di kampung halaman. Di sekelilingnya, figur-figur keturunan Latin ikut meramaikan suasana, mempertegas kebanggaan kolektif terhadap budaya yang kerap berada di pinggir arus utama hiburan Amerika Serikat.
Adegan teatrikal ketika Bad Bunny berdiri di atas rumah itu lalu terjatuh menembus atap membawa penonton berpindah dari satu lanskap ke lanskap lain. Ia muncul di hamparan rumput yang menyerupai pedesaan Karibia, lalu berada di latar yang mengingatkan pada infrastruktur listrik Puerto Rico, seakan menyiratkan perjalanan antara romantisme tanah air dan realitas sosialnya.
Menjelang akhir, nada pertunjukan berubah menjadi reflektif. Sebuah papan besar memunculkan kalimat, “The only thing more powerful than hate is love.” Bad Bunny kemudian menutup malam dengan seruan berkat bagi Amerika, sebelum menyebut satu per satu negara Amerika Latin, dari Kuba hingga Venezuela. Penutup itu membuat panggung Super Bowl terasa seperti ruang solidaritas regional, bukan sekadar arena hiburan olahraga.
Dengan pendekatan tersebut, Bad Bunny memperlihatkan bagaimana pertunjukan halftime bisa menjadi medium diplomasi budaya. Musik, tarian, dan visual spektakuler tetap hadir, tetapi yang paling membekas adalah upaya mendefinisikan ulang siapa yang termasuk dalam kata “kita”.

