LUMINASIA.ID, BOLA - Olimpiade Musim Dingin 2026 resmi bergulir pada 6-22 Februari di sejumlah kota di Italia. Ketika negara-negara dengan tradisi olahraga salju dan es bersiap memburu medali, Indonesia kembali tercatat belum ambil bagian dalam pesta olahraga empat tahunan tersebut.
Dilansir Detik, kondisi geografis menjadi faktor utama. Indonesia sebagai negara tropis tidak memiliki musim dingin maupun fasilitas alami untuk pengembangan olahraga berbasis salju dan es seperti ski, biathlon, hingga bobsleigh. Minimnya arena latihan membuat pembinaan atlet harus dilakukan di luar negeri, yang tentu membutuhkan biaya besar serta program jangka panjang.
Selain soal iklim, kultur olahraga musim dingin juga belum mengakar. Berbeda dengan cabang populer seperti bulu tangkis atau angkat besi yang memiliki ekosistem kompetisi dari level usia dini, olahraga musim dingin masih sebatas diperkenalkan melalui komunitas kecil dan inisiatif terbatas.
Meski demikian, peluang tetap terbuka. Indonesia kini telah menjadi anggota sejumlah federasi internasional olahraga musim dingin. Keanggotaan ini memberi pintu bagi atlet Merah Putih untuk mengikuti pelatnas maupun kualifikasi di masa mendatang apabila pembinaan dapat berjalan konsisten.
Sejumlah negara Asia Tenggara lain perlahan mulai mencicipi partisipasi dengan mengirim atlet naturalisasi atau atlet yang berlatih di luar negeri. Langkah tersebut sering dijadikan model awal untuk membangun pengalaman sebelum mengembangkan talenta lokal.
Olimpiade Musim Dingin Milano-Cortina sendiri mengusung tema harmoni, menekankan persatuan bangsa-bangsa lewat olahraga. Bagi Indonesia, momen ini menjadi pengingat bahwa jalan menuju keikutsertaan mungkin panjang, namun bukan mustahil jika investasi, fasilitas, dan minat generasi muda mulai diarahkan ke sana.
Dengan perencanaan matang, bukan tidak mungkin suatu hari nanti Merah Putih turut berkibar di arena es dan salju, melengkapi kiprah Indonesia di panggung Olimpiade dunia.

