LUMINASIA.ID, JAKARTA - Menjelang pertengahan Februari 2026, perhatian publik terhadap Ramadan tak hanya soal kapan mulai berpuasa. Banyak keluarga kini mulai menghitung ulang kalender, mencari celah waktu yang bisa dimanfaatkan untuk berkumpul lebih lama di rumah. Tahun ini, momen tersebut muncul karena penataan jadwal pendidikan di awal bulan suci beririsan dengan libur nasional lain.
Dilansir Berita Satu, pemerintah menetapkan 18–20 Februari 2026 sebagai periode pembelajaran di luar satuan pendidikan bagi siswa SD, SMP, SMA, dan sederajat. Artinya, murid tidak menjalani kegiatan tatap muka seperti biasa. Kebijakan ini dimaksudkan memberi ruang adaptasi pada hari-hari pertama puasa sekaligus mendorong aktivitas yang bernilai penguatan karakter dan spiritual.
Jika dilihat dari susunan tanggal, fase awal Ramadan itu datang tepat setelah rangkaian libur Tahun Baru Imlek. Pada Senin, 16 Februari 2026 tercatat sebagai cuti bersama, lalu Selasa, 17 Februari 2026 merupakan libur nasional Imlek. Ketika digabung dengan akhir pekan sebelumnya serta masa belajar dari rumah pada 18–20 Februari, terbuka peluang jeda kegiatan sekolah yang terasa jauh lebih panjang.
Bagi banyak orang tua, kombinasi ini menjadi kesempatan langka. Sebagian dapat memanfaatkannya untuk mudik lebih awal, merencanakan perjalanan singkat, atau sekadar memastikan anak-anak punya waktu menata ritme ibadah tanpa tergesa-gesa bangun pagi untuk berangkat ke sekolah.
Meski disebut “libur”, pemerintah menekankan bahwa hari-hari tersebut bukan waktu kosong tanpa kegiatan. Siswa muslim dianjurkan mengikuti pesantren kilat, tadarus, serta aktivitas pembinaan akhlak. Peserta didik nonmuslim tetap mendapatkan pendampingan rohani sesuai keyakinan masing-masing. Sekolah diharapkan mengoordinasikan bentuk kegiatan agar tujuan pendidikan tetap tercapai.
Setelah periode adaptasi itu, kegiatan belajar mengajar kembali berjalan mulai Senin, 23 Februari 2026. Umumnya, sekolah akan menerapkan penyesuaian durasi jam pelajaran selama Ramadan sehingga anak tetap bisa belajar dengan kondisi fisik yang lebih ringan.
Pengaturan kalender ini memperlihatkan upaya pemerintah menyelaraskan dunia pendidikan dengan dinamika ibadah masyarakat. Bukan sekadar memberi hari libur, tetapi juga menciptakan momentum agar keluarga memiliki waktu lebih berkualitas di fase awal bulan suci.
Dengan memahami irisan jadwal tersebut sejak sekarang, orang tua dapat menyusun rencana yang lebih matang, mulai dari kegiatan keagamaan, perjalanan, hingga pengaturan kebutuhan rumah tangga selama Ramadan.

