LUMINASIA.ID, JAKARTA – Menjelang datangnya bulan suci Ramadhan 1447 H/2026 M, pembahasan mengenai niat mandi puasa kembali menjadi perhatian umat Islam. Banyak masyarakat masih bertanya, apakah mandi wajib menjadi syarat sebelum menjalankan ibadah puasa Ramadhan?
Dalam literatur fikih, dikenal adanya mandi sunnah yang dianjurkan dilakukan pada malam-malam bulan Ramadhan. Adapun lafaz niat mandi sunnah di malam Ramadhan adalah sebagai berikut:
نَوَيْتُ أَدَاءَ اْلغُسْلِ اْلمَسْنُوْنِ لِيْ فِيْ هَذِهِ اللَّيْلَةِ مِنْ رَمَضَانَ لله تَعَالَى
Nawaitu adâ’al ghuslil masnûni lî fî hadzihil lailatil min ramadhana lillâhi ta’âlâ.
Artinya: “Aku berniat menjalankan mandi yang disunnahkan kepadaku pada malam ini di bulan Ramadhan karena Allah Ta’ala.”
Tidak Ada Kewajiban Mandi Wajib Sebelum Puasa
Sejumlah ulama menegaskan bahwa mandi wajib bukanlah syarat sah menjalankan puasa Ramadhan. Syarat wajib puasa sebagaimana dijelaskan dalam berbagai hadis dan kitab fikih meliputi: beragama Islam, telah baligh, berakal sehat, mampu menjalankan puasa, serta mengetahui masuknya bulan Ramadhan.
Ustaz Syamsul Arifin dari NU Online menjelaskan, “Jelas, penjelasan di atas tidak menyertakan wajib mandi untuk melakukan puasa Ramadhan. Mandi wajib bukan merupakan keharusan menjelang bulan Ramadhan. Sebab, mandi wajib hanya diharuskan bagi orang berhadats besar yang hendak melakukan ibadah yang memang disyaratkan demikian seperti shalat lima waktu dan tawaf, sedangkan puasa tidak termasuk.”
Dengan demikian, seseorang tetap sah berpuasa meskipun belum mandi wajib, selama ia memenuhi syarat sah dan wajib puasa. Mandi wajib hanya diperlukan jika seseorang berada dalam kondisi hadas besar dan hendak melaksanakan ibadah yang mensyaratkannya, seperti shalat.
Mandi Sunnah di Setiap Malam Ramadhan
Dalam kitab Hasyiyah al-Bajuri disebutkan bahwa salah satu mandi yang disunnahkan adalah mandi pada setiap malam bulan Ramadhan. Disebutkan:
و بقية الأغسال المسنونة مذكورة في المطولات منها الغسل لدخول المدينة الشريفة...ولكل ليلة من رمضان و قيده الأذرعي بمن يحضر الجماعة والمعتمد عدم التقييد بذالك
Artinya, mandi yang disunnahkan di antaranya adalah mandi untuk setiap malam Ramadhan. Sebagian ulama membatasinya bagi yang hendak menghadiri shalat berjamaah, namun pendapat yang lebih kuat menyatakan tidak ada pembatasan tersebut.
Penjelasan serupa juga dikemukakan Sayyid Abu Bakar Syatha’ dalam kitab I’anatut Thalibin. Ia menerangkan bahwa mandi sunnah Ramadhan berlaku umum dan tidak terbatas hanya bagi yang menghadiri jamaah.
Waktu Pelaksanaan Mandi Sunnah Ramadhan
Adapun waktu pelaksanaan mandi sunnah di malam Ramadhan dimulai sejak terbenamnya matahari (masuk waktu Maghrib) hingga terbitnya fajar shadiq. Dengan kata lain, mandi dapat dilakukan setelah berbuka puasa hingga sebelum waktu Subuh.
Pendapat ini diperkuat oleh Imam Ali Syibramalisi yang menyatakan bahwa rentang waktu kesunnahan mandi tersebut adalah sejak matahari tenggelam sampai terbit fajar.
Anjuran mandi sunnah ini dimaksudkan sebagai bentuk penyempurnaan ibadah dan persiapan spiritual dalam menyambut malam-malam Ramadhan yang penuh keberkahan, termasuk pelaksanaan shalat Tarawih dan ibadah lainnya.
Memahami Perbedaan Mandi Wajib dan Mandi Sunnah
Penting bagi umat Islam untuk memahami perbedaan antara mandi wajib dan mandi sunnah. Mandi wajib dilakukan karena sebab tertentu seperti junub, haid, atau nifas, dan menjadi syarat sah untuk ibadah tertentu seperti shalat. Sementara mandi sunnah di malam Ramadhan bersifat anjuran untuk menambah kesempurnaan ibadah, bukan kewajiban.
Dengan pemahaman yang tepat, masyarakat tidak lagi salah kaprah menganggap mandi wajib sebagai syarat sebelum berpuasa. Puasa Ramadhan tetap sah tanpa mandi wajib, selama tidak ada hadas besar yang menghalangi pelaksanaan ibadah lain yang disyaratkan suci.
Memasuki Ramadhan 2026, umat Islam diharapkan dapat menjalankan ibadah dengan tenang, berdasarkan ilmu yang benar, serta tidak terjebak pada informasi yang keliru mengenai syarat dan tata cara ibadah puasa.

