LUMINASIA.ID, NASIONAL - Istilah “mokel” kembali ramai diperbincangkan selama Ramadan 2026, namun di balik popularitasnya sebagai bahasa gaul, fenomena ini juga membuka diskusi yang lebih luas tentang tekanan sosial, dinamika religiusitas, hingga perubahan cara generasi muda memaknai ibadah puasa.
Dilansir Kompas, di berbagai platform media sosial, “mokel” tidak lagi sekadar merujuk pada tindakan membatalkan puasa diam-diam, tetapi juga menjadi bagian dari candaan kolektif yang dinormalisasi dalam percakapan sehari-hari. Ungkapan seperti “mokel duluan” atau “gagal puasa hari ini” kerap muncul dengan nada ringan, bahkan humoris.
Pengamat sosial melihat tren ini sebagai refleksi dari perubahan budaya komunikasi di kalangan anak muda. Istilah yang berasal dari bahasa Jawa—yang berarti “membatalkan” atau “tidak melanjutkan”—mengalami pergeseran makna menjadi simbol ekspresi santai terhadap kegagalan menjalankan puasa.
Namun, di sisi lain, fenomena ini juga menunjukkan adanya tekanan sosial yang cukup kuat. Di tengah lingkungan yang mayoritas menjalankan ibadah puasa, sebagian individu memilih menggunakan istilah “mokel” sebagai cara meredakan rasa bersalah atau menghindari stigma.
“Penggunaan kata seperti ‘mokel’ bisa menjadi mekanisme coping. Orang jadi merasa tidak sendirian ketika gagal menjalankan puasa,” ujar seorang pengamat budaya digital.
Fenomena ini juga menyoroti bagaimana praktik keagamaan kini tidak lepas dari pengaruh media sosial. Diskursus tentang puasa tidak hanya terjadi di ruang privat atau tempat ibadah, tetapi juga di ruang digital yang penuh dengan humor, opini, dan bahkan normalisasi perilaku tertentu.
Di tengah tren tersebut, sejumlah kalangan mengingatkan pentingnya menjaga esensi Ramadan sebagai bulan refleksi diri. Meski istilah “mokel” dianggap sebagai bagian dari dinamika bahasa dan budaya populer, praktik meninggalkan puasa tanpa alasan yang dibenarkan tetap bertentangan dengan ajaran agama.
Perbincangan tentang “mokel” pun pada akhirnya bukan sekadar soal istilah, melainkan cerminan dari pertemuan antara tradisi, tekanan sosial, dan gaya hidup digital yang terus berkembang di masyarakat Indonesia.

