LUMINASIA.ID, Jakarta – Aksi teror terhadap aktivis kembali menjadi sorotan setelah kasus yang menimpa Palti Hutabarat memunculkan kekhawatiran akan meningkatnya ancaman terhadap kebebasan berekspresi di Indonesia. Insiden pengiriman kepala anjing ke rumah orang tua Palti di Deli Serdang tidak hanya dilihat sebagai intimidasi personal, tetapi juga sebagai sinyal eskalasi tekanan terhadap kelompok kritis.
Dilansir Tempo, peristiwa tersebut terjadi di tengah rangkaian kasus kekerasan yang menimpa aktivis dalam beberapa waktu terakhir. Sebelumnya, aktivis KontraS Andrie Yunus menjadi korban penyiraman air keras, sementara sejumlah figur publik lain juga mengalami bentuk teror berbeda, mulai dari kiriman bangkai hingga ancaman langsung. Pola ini memunculkan dugaan adanya tren sistematis untuk membungkam suara kritis.
Pengamat menilai bentuk teror simbolik seperti pengiriman kepala hewan memiliki pesan psikologis yang kuat. Selain menimbulkan rasa takut, tindakan tersebut juga menyasar keluarga korban, memperluas dampak intimidasi di luar individu yang menjadi target utama. Dalam kasus Palti, rangkaian kejadian mencurigakan seperti kiriman paket fiktif hingga pertanyaan orang tak dikenal tentang penghuni rumah memperkuat indikasi adanya upaya terstruktur.
Kondisi ini memicu desakan agar negara hadir memberikan perlindungan lebih serius terhadap aktivis dan pembela hak asasi manusia. Lembaga bantuan hukum dan organisasi masyarakat sipil menilai aparat penegak hukum harus segera mengusut tuntas kasus-kasus teror tersebut, sekaligus memastikan tidak ada impunitas bagi pelaku.
Di sisi lain, momentum Ramadan yang seharusnya menjadi periode aman dan penuh ketenangan justru diwarnai oleh aksi intimidatif. Hal ini dinilai mempertegas urgensi penanganan cepat agar tidak memicu ketakutan lebih luas di masyarakat.
Kasus Palti Hutabarat kini tidak hanya menjadi persoalan kriminal semata, tetapi juga ujian bagi komitmen negara dalam menjamin ruang aman bagi kebebasan berpendapat. Tanpa langkah tegas, kekhawatiran akan meningkatnya teror terhadap suara kritis diprediksi akan terus membayangi.

