Langsung ke konten
DuaSisi
jmsi sulsel
  • HIBURAN
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
  • VIRAL
  • PERISTIWA
  • SULSEL
  • EDUKASI
  • LIFESTYLE
  • OPINI
  • VIDEO
  • MAKASSAR
  • INDEKS
Beranda Peristiwa

Oseanografi Ungkap Alarm Sunyi: Laut Menyimpan Bom Panas yang Bisa Mengubah Masa Depan Bumi

Senin, 23 Maret 2026 18:57
Editor: diku
  • Bagikan
Terumbu karang di laut memutih akibat panas laut yang ekstrim, efek krisis iklim (BBC)

LUMINASIA.ID, INTERNASIONAL - Di balik narasi umum tentang kenaikan suhu global, laporan terbaru dari World Meteorological Organization justru menyoroti ancaman yang lebih dalam—secara harfiah. Lautan dunia kini menyerap lebih dari 90% kelebihan panas akibat aktivitas manusia, menjadikannya “penyimpan energi” raksasa yang berpotensi mengubah sistem Bumi dalam jangka sangat panjang.

Dilansir The Guardian, alih-alih hanya melihat suhu permukaan, ilmuwan kini menyoroti apa yang terjadi di bawah laut. Panas yang tersimpan tidak hanya meningkatkan suhu air, tetapi juga merusak struktur ekosistem laut—terutama terumbu karang—dan mengganggu arus laut global yang selama ini menjaga keseimbangan iklim.

Fenomena ini sering disebut sebagai “ketidakseimbangan energi Bumi”, di mana panas yang masuk ke sistem planet jauh lebih besar dibanding yang keluar. Dalam kondisi normal, keseimbangan ini relatif stabil. Namun sejak era industri, pembakaran bahan bakar fosil seperti minyak, gas, dan batu bara telah meningkatkan konsentrasi gas rumah kaca ke level tertinggi dalam ratusan ribu tahun.

Yang mengejutkan, hanya sekitar 1% panas tambahan itu yang langsung terasa di atmosfer—bagian yang selama ini dirasakan manusia sebagai kenaikan suhu udara. Sisanya tersembunyi di laut, daratan, dan pencairan es.

Efek Domino dari Dalam Laut

Panas yang tersimpan di laut bukan sekadar “ditahan”—ia menciptakan efek domino yang kompleks. Pemanasan laut mempercepat kenaikan permukaan air laut, memperkuat badai tropis, dan memperburuk fenomena cuaca ekstrem.

Lebih dalam lagi, panas ini mulai menembus lapisan laut yang sebelumnya stabil. Perubahan ini berpotensi mengganggu sirkulasi laut global, sistem arus besar yang mengatur distribusi panas di seluruh dunia. Jika terganggu, pola iklim regional bisa berubah drastis—termasuk di kawasan Asia Tenggara seperti Indonesia.

Selain itu, laut yang lebih hangat juga menyerap lebih banyak karbon dioksida, menyebabkan pengasaman laut. Kombinasi panas dan asam ini menjadi ancaman serius bagi organisme laut, dari plankton hingga ikan, yang menjadi fondasi rantai makanan manusia.

Ancaman yang “Terkunci” Ribuan Tahun

Salah satu temuan paling mengkhawatirkan adalah sifat permanen dari perubahan ini. Berbeda dengan suhu udara yang bisa turun relatif cepat jika emisi dikurangi, panas di laut dapat bertahan selama ratusan hingga ribuan tahun.

Artinya, bahkan jika dunia berhasil menurunkan emisi secara drastis hari ini, dampak dari panas yang sudah tersimpan tetap akan terasa oleh generasi mendatang.

Sekretaris Jenderal PBB, António Guterres, menyebut kondisi ini sebagai “keadaan darurat global”, menegaskan bahwa indikator utama iklim kini menunjukkan tanda bahaya.

Indonesia di Garis Depan

Sebagai negara kepulauan dengan keanekaragaman hayati laut tertinggi di dunia, Indonesia berada di garis depan dampak ini. Pemutihan karang, penurunan hasil tangkapan ikan, hingga ancaman kenaikan permukaan laut menjadi risiko nyata bagi ekonomi dan ketahanan pangan.

Perubahan di laut juga berpotensi memengaruhi pola cuaca regional, termasuk musim hujan dan kemarau yang sangat krusial bagi sektor pertanian dan perikanan.

Bukan Sekadar Krisis, Tapi Perubahan Sistem

Laporan ini menegaskan bahwa krisis iklim bukan lagi sekadar soal suhu yang naik, tetapi perubahan sistem Bumi secara menyeluruh—dengan laut sebagai pusatnya.

Dengan kemungkinan transisi dari La Niña ke El Niño dalam waktu dekat, pemanasan global bahkan diprediksi bisa kembali mencetak rekor baru dalam waktu dekat.

Di tengah semua ini, pesan utamanya jelas: krisis terbesar mungkin bukan yang kita rasakan sekarang—tetapi yang sedang “disimpan” diam-diam di kedalaman laut.

Tags: Krisis Iklim

Populer

  • 1
    Nikah Gratis di Makassar untuk 210 Pasangan, Daftar Lewat LONTARA+ Mulai Hari Ini
  • 2
    PJM Dukung Penyesuaian SOP Pemanduan Kapal di Perairan Wajib Pandu Kelas II Kijang
  • 3
    Cara Klaim Garansi Motor Honda di AHASS Mesin hingga Rangka, Ini Syarat dan Langkahnya
  • 4
    Gratis untuk Umum, Honda Bikers Day 2026 di Akkarena Bakal Hadirkan Last Child dan Ridwan Sau
  • 5
    SMAN 2 Makassar Juara Best Supporter, SMAN 5 Supporter Tervaforit di DBL Sulsel 2026

Ekonomi

  • OJK Lantik Dua Pejabat Baru, Perkuat Pengawasan Sektor Jasa Keuangan
    OJK Lantik Dua Pejabat Baru, Perkuat Pengawasan Sektor Jasa Keuangan
  • Kepala BPKAD: Alokasi BPJS Kesehatan Bertambah Rp30 Miliar di APBD Perubahan
    Kepala BPKAD: Alokasi BPJS Kesehatan Bertambah Rp30 Miliar di APBD Perubahan
  • Semarak Hari Pelindo ke-5, Regional 4 Perkuat Semangat Kepedulian dengan DOnor Darah
    Semarak Hari Pelindo ke-5, Regional 4 Perkuat Semangat Kepedulian dengan DOnor Darah

Peristiwa

  • Ini Daftar 18 Pejabat Dilantik Prabowo, Ada Kapolri, Ketua Ombudsman, hingga Bahlil Lahadalia Jadi Menko
    Ini Daftar 18 Pejabat Dilantik Prabowo, Ada Kapolri, Ketua Ombudsman, hingga Bahlil Lahadalia Jadi Menko
  • Ada Pintu Tak Berpagar di Belakang Lapas Cibinong, Terparkir 2 MObil Mewah Misterius
    Ada Pintu Tak Berpagar di Belakang Lapas Cibinong, Terparkir 2 MObil Mewah Misterius
  • Resmi Jadi Kader PSI, Jokowi Tunjukkan KTA dan Minta Kader Tak Ragu Hadapi Pemilu 2029
    Resmi Jadi Kader PSI, Jokowi Tunjukkan KTA dan Minta Kader Tak Ragu Hadapi Pemilu 2029
  • Beranda
  • Tentang Kami
  • Struktur
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Indeks
© 2024 - 2026 LUMINASIA.ID