LUMINASIA.ID, MAKASSAR — Darul Arqam Angkatan III bagi dosen Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar resmi ditutup pada Jumat, 17 April 2026, di Balai Sidang Muktamar ke-47 Unismuh Makassar.
Penutupan kegiatan ini menegaskan pentingnya penguatan ideologi, kaderisasi, serta komitmen bermuhammadiyah di kalangan dosen sebagai fondasi utama dalam mendorong kemajuan kampus.
Master of Training, Beni Setiawan, dalam laporannya menyampaikan bahwa kegiatan berlangsung selama lima hari dan diikuti peserta yang dinilai memiliki potensi besar dalam pengembangan institusi ke depan.
Ia mengungkapkan, hasil evaluasi menunjukkan sebagian besar aspek penyelenggaraan berada pada kategori sangat baik. Selain itu, capaian akademik peserta juga mengalami peningkatan signifikan, terlihat dari nilai rata-rata yang naik dari 63 pada pretest menjadi 76 pada posttest.
Meski demikian, Beni mencatat masih terdapat beberapa aspek yang perlu diperkuat, khususnya dalam pemahaman tarjih dan praktik ibadah. Ia juga menyoroti keaktifan peserta dalam persyarikatan Muhammadiyah yang masih berada pada kategori menengah.
“Hal ini menjadi catatan penting untuk pembinaan lanjutan, agar dosen tidak hanya berperan sebagai tenaga akademik, tetapi juga sebagai kader yang aktif dalam gerakan persyarikatan,” ujarnya.
Rektor Unismuh Makassar, Dr Abd Rakhim Nanda, dalam sambutannya menegaskan bahwa Darul Arqam merupakan bagian dari strategi besar kampus dalam membentuk sumber daya manusia yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga kokoh secara ideologis.
“Darul Arqam ini adalah pintu formalnya Bapak Ibu. Setelah dinyatakan lulus dan mendapatkan syahadah, itu berarti resmi menjadi kader Muhammadiyah,” kata Rakhim Nanda.
Ia menekankan bahwa Darul Arqam tidak boleh dipandang sekadar sebagai kegiatan seremonial, melainkan sebagai titik awal pembentukan cara pandang keislaman dan kemuhammadiyahan yang utuh.
Menurutnya, kegiatan ini menjadi “starting point untuk bermuhammadiyah secara ilmu”, sehingga para dosen tidak lagi ragu dalam menjelaskan sikap, manhaj, maupun keputusan Muhammadiyah di tengah masyarakat.
Lebih lanjut, Rakhim Nanda menyebut Unismuh menargetkan seluruh dosen dan tenaga kependidikan mengikuti Darul Arqam sebagai bagian dari penguatan kaderisasi kampus.
“Kita sudah bertekad, 100 persen dosen dan karyawan harus mengikuti Darul Arqam. Semua adalah kader Muhammadiyah,” tegasnya.
Ia juga menambahkan bahwa pascakegiatan, pembinaan akan dilanjutkan melalui penandatanganan pakta integritas terkait komitmen hidup Islami dan nilai-nilai persyarikatan, sebagai upaya menjaga marwah Islam dan Muhammadiyah di lingkungan kampus.
Sementara itu, Ketua Majelis Pembinaan Kader dan Sumber Daya Insani Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Dr Bachtiar Dwi Kurniawan, menilai proses kaderisasi di Unismuh berlangsung progresif dan menjadi salah satu faktor penting dalam percepatan kemajuan institusi.
“Kalau ideologi kuat, saya yakin Unismuh akan hebat dan Muhammadiyah akan dahsyat,” ujarnya.
Bachtiar juga menegaskan bahwa Darul Arqam merupakan pintu masuk penting untuk menjadi kader Muhammadiyah, dengan berbagai jalur yang terbuka, termasuk melalui amal usaha seperti perguruan tinggi.
“Jangan ada lagi yang merasa bukan kader Muhammadiyah. Menjadi Muhammadiyah itu banyak pintunya,” katanya.
Ia menambahkan, peserta saat ini mungkin baru berada pada tahap administratif, namun yang lebih penting adalah berkembang menjadi kader substantif yang aktif, berkontribusi, dan mengambil peran dalam memajukan persyarikatan.
Menurutnya, masa depan Unismuh berada di tangan dosen-dosen yang telah mengikuti Darul Arqam, sehingga penguatan ideologi dan keterlibatan dalam struktur organisasi Muhammadiyah perlu terus ditingkatkan.
“Selamat menjadi kader Muhammadiyah,” ucap Bachtiar saat menutup kegiatan.
Penutupan Darul Arqam Angkatan III ini tidak hanya menandai berakhirnya satu rangkaian pelatihan, tetapi juga menjadi awal dari proses panjang pembinaan kader yang diharapkan mampu memperkuat posisi Unismuh sebagai kampus yang unggul dan mencerahkan.

