LUMINASIA.ID, BOLA — PSBS Biak dipastikan terdegradasi dari BRI Super League 2025/2026 setelah menelan kekalahan telak 0-4 dari tuan rumah Persebaya Surabaya dalam laga pekan ke-31 di Stadion Gelora Bung Tomo, Sabtu (2/5/2026). Hasil ini menutup peluang tim berjuluk “Badai Pasifik” untuk bertahan di kasta tertinggi sepak bola nasional.
Tim tamu PSBS Biak harus mengakui dominasi penuh Persebaya yang tampil agresif sepanjang pertandingan. Meski babak pertama berakhir tanpa gol, tekanan intens yang dibangun tuan rumah akhirnya membuahkan empat gol di babak kedua.
Dilansir Kompas, kekalahan tersebut membuat PSBS Biak tetap terpuruk di dasar klasemen sementara dengan koleksi 18 poin. Dari total 31 pertandingan, mereka hanya mampu mencatatkan empat kemenangan, enam hasil imbang, dan menelan 21 kekalahan—rekor yang tidak cukup untuk bersaing di liga level tertinggi.
Dengan hanya tiga pertandingan tersisa, secara matematis PSBS tidak mungkin lagi keluar dari zona degradasi. Mereka akan melanjutkan sisa musim menghadapi Dewa United FC, kemudian bertemu Arema FC, sebelum menutup kompetisi dengan laga tandang melawan Bhayangkara Presisi Lampung FC.
Pelatih PSBS Biak, Marian Cucchiaroni Mihail, sebelumnya telah menghadapi tekanan besar sepanjang musim akibat inkonsistensi performa tim. Meski sempat menunjukkan perlawanan di beberapa laga, PSBS gagal menjaga stabilitas permainan.
Sementara itu, kemenangan ini memperkuat posisi Persebaya Surabaya di papan tengah klasemen sekaligus menunjukkan konsistensi mereka di fase akhir kompetisi. Dukungan penuh suporter di Gelora Bung Tomo kembali menjadi faktor penting dalam performa solid tim berjuluk “Green Force”.
Degradasi ini menjadi pukulan bagi PSBS Biak yang baru beberapa musim terakhir mencicipi persaingan di level tertinggi. Mereka kini harus bersiap kembali berkompetisi di Pegadaian Championship musim depan, dengan pekerjaan rumah besar untuk membangun ulang skuad yang lebih kompetitif.
Situasi ini juga menambah daftar tim yang harus turun kasta dalam sistem promosi dan degradasi Liga Indonesia, yang terus menjadi penentu ketatnya persaingan di setiap musim kompetisi.

