LUMINASIA.ID, JAKARTA — United States Air Force untuk pertama kalinya memperlihatkan ke publik pembom B-1B Lancer yang membawa rudal hipersonik AGM-183 ARRW. Publikasi ini menandai kebangkitan program senjata yang sebelumnya sempat dipangkas dan diragukan kelanjutannya.
Dilansir IDN Finance, rekaman yang dirilis oleh Edwards Air Force Base memperlihatkan B-1B mengangkut ARRW pada titik gantung eksternal (hardpoint). Meski waktu pengambilan gambar tidak diungkap, kemunculan visual tersebut dianggap sebagai tonggak penting dalam integrasi senjata hipersonik ke platform pembom strategis Amerika Serikat.
ARRW sebelumnya digadang-gadang menjadi senjata hipersonik operasional pertama militer AS. Namun pada 2023, program ini mengalami pemangkasan anggaran. Kini, Angkatan Udara AS kembali mendorong pengembangannya, termasuk melalui rencana varian lanjutan serta proyek baru rudal balistik luncur udara atau air-launched ballistic missile (ALBM).
Mantan kepala Air Force Global Strike Command, Timothy Ray, menegaskan pentingnya integrasi ini dalam pernyataannya.
“Tujuan saya adalah untuk mendatangkan setidaknya satu skuadron pesawat yang dimodifikasi dengan pylon eksternal pada B-1, untuk membawa ARRW (Air-launched Rapid Response Weapon),” ujarnya.
Dalam dokumen anggaran fiskal 2026, B-1B ditetapkan sebagai platform uji bagi sistem pylon modular Load Adaptable Modular (LAM). Sistem ini dirancang untuk membawa senjata hipersonik dan muatan berat lainnya. Secara kapasitas, B-1B dapat membawa hingga enam pylon eksternal, masing-masing mampu mengangkut senjata dengan bobot sekitar 5.000 pon, termasuk ARRW.
Angkatan Udara AS dalam dokumen resminya menyatakan, “Program Integrasi Hipersonik berhasil mendemonstrasikan kemampuan B-1 untuk melakukan pengangkutan muatan kelas 5.000 pon dan pelepasan bentuk senjata yang telah teruji dari pylon Load Adaptable Modular (LAM).”
Secara teknologi, ARRW menggunakan konsep kendaraan luncur hipersonik (boost-glide vehicle). Sistem ini memanfaatkan roket pendorong untuk mencapai kecepatan sangat tinggi sebelum meluncur menuju target dengan lintasan yang sulit diprediksi, sehingga meningkatkan peluang untuk menghindari sistem pertahanan lawan.
Dalam proposal anggaran tahun fiskal 2027, Angkatan Udara AS mengajukan hampir 350 juta dolar AS untuk pengembangan ARRW tahap lanjut (Increment 2) sekaligus memulai program ALBM. Selain itu, sekitar 1,8 miliar dolar AS dialokasikan guna mempercepat produksi ARRW dan rudal hipersonik lain, yakni Hypersonic Attack Cruise Missile (HACM).
Dalam pernyataan resmi disebutkan, “Kami menggandakan tingkat produksi untuk dua senjata hipersonik yang sedang kami kembangkan, yaitu Air-Launched Rapid Response Weapon (ARRW) dan Hypersonic Attack Cruise Missile (HACM), dengan investasi yang direncanakan sebesar 1,8 miliar dolar AS...”
Langkah ini terjadi di tengah meningkatnya persaingan teknologi militer global, khususnya dengan China dalam pengembangan senjata hipersonik. Selain fokus pada persenjataan, AS juga memperpanjang usia operasional armada B-1B hingga setidaknya tahun 2037.
Sekitar 342 juta dolar AS disiapkan untuk program modernisasi 44 unit B-1B hingga 2031. Dengan kapasitas angkut terbesar di antara pembom strategis AS, pesawat ini kembali diposisikan sebagai platform utama dalam pengujian dan pengembangan senjata generasi baru.
Penguatan peran B-1B dalam program hipersonik dinilai menjadi bagian dari strategi Washington untuk meningkatkan daya gentar militer di tengah dinamika geopolitik yang kian memanas.

