LUMINASIA.ID, Jakarta – Demokrasi Armenia dinilai menghadapi tantangan serius dari dalam negeri di tengah meningkatnya persaingan geopolitik antara Rusia dan Uni Eropa. Penilaian tersebut disampaikan pakar politik internasional Anna Ohanyan dalam sebuah artikel opini yang diterbitkan Foreign Policy pada 21 Juli 2026.
Menurut Ohanyan, dinamika politik domestik Armenia kini tidak hanya dipengaruhi oleh persaingan antarkelompok politik di dalam negeri, tetapi juga oleh dukungan eksternal yang diberikan kepada kelompok oposisi. Ia menilai kondisi tersebut berpotensi mengganggu proses demokrasi yang sedang berkembang di negara Kaukasus Selatan tersebut.
Dalam artikelnya, Ohanyan menyoroti pertemuan antara Presiden Rusia Vladimir Putin dan Perdana Menteri Armenia Nikol Pashinyan di Moskow pada 1 April 2026, sekitar dua bulan sebelum pemilihan parlemen Armenia. Pertemuan itu disebut memperlihatkan perbedaan pandangan mengenai arah kebijakan luar negeri Armenia.
Putin menegaskan bahwa Armenia harus menentukan pilihan antara tetap berorientasi pada Uni Ekonomi Eurasia (Eurasian Economic Union/EAEU) yang dipimpin Rusia atau mempererat hubungan dengan Uni Eropa. Menurut Putin, pengalaman Rusia dengan Ukraina menunjukkan bahwa keanggotaan atau keterlibatan yang mendalam dengan kedua blok tersebut tidak dapat berjalan bersamaan.
Sementara itu, Pashinyan menolak pandangan tersebut. Ia menyatakan bahwa keanggotaan Armenia di EAEU tetap sejalan dengan upaya memperluas dan mendiversifikasi hubungan dengan Uni Eropa. Menurutnya, secara hukum maupun administratif, Armenia dapat mempertahankan hubungan dengan kedua blok tersebut secara bersamaan.
Meski Putin beberapa kali mendesak Armenia untuk membuat pilihan geopolitik yang jelas, Pashinyan tetap menegaskan komitmen pemerintahnya untuk menjaga hubungan baik dengan Rusia sembari memperluas kerja sama dengan mitra internasional lainnya.
Ohanyan menilai perdebatan tersebut mencerminkan posisi Armenia yang semakin kompleks di tengah persaingan pengaruh kekuatan besar di kawasan Eurasia. Menurutnya, tekanan dari luar yang berpadu dengan dinamika politik domestik berpotensi menjadi tantangan bagi stabilitas demokrasi Armenia ke depan, terutama menjelang dan setelah penyelenggaraan pemilu parlemen.


