LUMINASIA ID, Makassar – Fenomena Buck Moon, bulan purnama khas Juli, menghiasi langit pada Rabu (29/7) malam dengan rona oranye yang mencolok saat terbit di ufuk timur. Peristiwa ini menjadi bulan purnama reguler terakhir sebelum memasuki rangkaian musim gerhana yang akan berlangsung pada Agustus 2026.
Dilansir Media Indonesia, warna oranye pada Buck Moon bukan disebabkan perubahan warna Bulan, melainkan efek Rayleigh scattering atau hamburan cahaya di atmosfer Bumi. Ketika Bulan berada rendah di dekat cakrawala, cahayanya harus melewati lapisan atmosfer yang lebih tebal sehingga cahaya biru lebih banyak tersebar, sementara cahaya merah dan oranye lebih dominan mencapai mata pengamat.
Nama Buck Moon berasal dari tradisi masyarakat adat Amerika Utara yang mengaitkan bulan purnama Juli dengan masa tanduk rusa jantan (buck) mulai tumbuh kembali. Di sejumlah wilayah, bulan purnama ini juga dikenal sebagai Thunder Moon karena bertepatan dengan musim badai petir di belahan Bumi utara.
Fenomena ini sekaligus menjadi penanda dimulainya musim gerhana. Pada Agustus mendatang, langit diperkirakan akan dihiasi dua peristiwa astronomi penting, yakni gerhana Matahari total dan gerhana Bulan sebagian.
Bagi masyarakat yang ingin menikmati keindahan Buck Moon, waktu terbaik untuk mengamatinya adalah sesaat setelah Matahari terbenam ketika Bulan baru muncul di ufuk timur. Fenomena ini dapat disaksikan dengan mata telanjang tanpa alat bantu, asalkan kondisi langit cerah dan tidak tertutup awan tebal.



