LUMINASIA.ID, JAKARTA – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mendorong masyarakat memperkuat literasi keuangan dan kecakapan digital untuk menghadapi beragam modus penipuan yang memanfaatkan perkembangan teknologi, termasuk saat menggunakan layanan keuangan digital.
Kepala Eksekutif Pengawas Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi, dan Pelindungan Konsumen OJK sekaligus Anggota Dewan Komisioner OJK, Dicky Kartikoyono, mengatakan masyarakat perlu memiliki kemampuan untuk melindungi diri ketika menggunakan layanan keuangan digital.
Menurut Dicky, pengguna layanan keuangan digital perlu dibekali pengetahuan yang memadai agar mampu mengenali potensi risiko sebelum melakukan transaksi maupun memberikan data pribadi.
Perkembangan teknologi digital telah memberikan banyak manfaat bagi masyarakat, tetapi juga diikuti semakin beragamnya modus penipuan yang memanfaatkan perangkat dan layanan digital.
Karena itu, pemahaman mengenai keamanan transaksi dan perlindungan data pribadi menjadi bagian penting dalam pemanfaatan layanan keuangan berbasis teknologi.
Kebutuhan tersebut juga menjadi perhatian bagi kelompok lanjut usia (lansia) dan pensiunan yang mulai memanfaatkan layanan perbankan digital untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Berdasarkan Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2025 yang dilakukan OJK bersama Badan Pusat Statistik (BPS), indeks inklusi keuangan nasional mencapai 80,51 persen, sedangkan indeks literasi keuangan tercatat 66,46 persen.
Pada kelompok usia 51-79 tahun, indeks inklusi keuangan mencapai 66,88 persen, sementara indeks literasi keuangan berada di angka 54,55 persen.
Data tersebut menunjukkan pentingnya penguatan pemahaman keuangan bagi kelompok usia senior agar akses terhadap layanan keuangan dapat diimbangi dengan kemampuan mengenali manfaat dan risikonya.
Pesan tersebut turut disampaikan dalam kegiatan Financial Healing 2026 yang digelar Katadata bersama OJK dan Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) di Taman Literasi Martha Tiahahu, Jakarta, Sabtu (3/10/2026).
Kegiatan bertema “Cerdas Literasi Keuangan Digital: Cerdas Bertransaksi, Bijak Berinvestasi” itu menghadirkan edukasi keuangan melalui berbagai format, termasuk pertunjukan Wayang Kuliterasi dengan lakon “Pandawa Kalah Judol”.
Melalui edukasi yang dikemas dengan pendekatan budaya, masyarakat diajak memahami pentingnya kecermatan dalam bertransaksi dan kebijaksanaan dalam berinvestasi.




