Laporan: Geraldi NugrohoLUMINASIA.ID, MAKASSAR - Suara tawa bercampur alunan musik tradisi terdengar riuh di Kelurahan Parang Luara, Takalar. Ratusan petani berkumpul, bukan hanya untuk merayakan 80 tahun kemerdekaan Indonesia, tetapi juga memperingati 47 tahun perjalanan panjang perjuangan mereka.
Festival Tani, demikian nama kegiatan yang digelar pada 18–19 Agustus 2025.
Sekitar 250 petani dari tujuh desa dan dua kecamatan hadir, membawa semangat kebersamaan dalam sebuah perayaan sederhana namun penuh makna.
Di area festival, tampak pameran arsip, foto-foto lama, hingga perlengkapan tani yang menjadi saksi perjalanan mereka.
Ada pula lomba khas desa, musik, dan diskusi publik yang mempertemukan lintas generasi petani.
“Sejak 47 tahun lalu, petani di Polongbangkeng Takalar terus merawat perjuangan kolektifnya. Bagi kami, tanah bukan hanya tempat menanam padi atau jagung, tapi juga menanam harapan dan keberlanjutan hidup anak-cucu kami,” tutur Muzdalifah Jamal, perwakilan penyelenggara.
Festival ini sekaligus menjadi ruang refleksi. Para petani mengingat kembali masa-masa sulit, tetapi juga merayakan daya tahan dan kebersamaan.Bagi mereka, tanah adalah identitas dan harga diri, sesuatu yang harus dijaga demi masa depan keluarga.
Para pertani juga berkisah mengenai perjalanannya. Meski ada kisah pilu, suasana festival tetap hangat. Anak-anak berlarian di sekitar tenda, sementara para ibu menyiapkan makanan sederhana untuk para tamu.
Kemeriahan lomba rakyat dan seni tradisi menegaskan bahwa perjuangan petani juga dirayakan dengan kegembiraan.
Festival Tani Takalar tahun ini tidak hanya menjadi ajang peringatan, tetapi juga pengingat bahwa suara petani adalah bagian penting dari sejarah bangsa. Suara yang lahir dari ladang, tumbuh menjadi ingatan kolektif, dan terus menyalakan api harapan bagi generasi mendatang.

