Luminasia, Makassar, 3 Oktober 2025 - Program spesial Merekam Realita, Merangkai Sinema yang digelar di Makassar oleh Rumah Dokumenter Klaten bekerja sama dengan Rumata’ Artspace dan Makassar Screen, serta didukung oleh Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia, telah berlangsung sejak Jumat, 3 Oktober 2025.
Rangkaian kegiatan dibuka dengan diskusi buku pada sore hari yang membahas kompleksitas perfilman dokumenter di Indonesia. Diskusi menyinggung berbagai tantangan, mulai dari upaya menjaga idealisme kreatif, keterbatasan pasar, hingga pentingnya representasi kelompok minoritas dalam karya dokumenter. Diskusi ini dimoderatori oleh Della Arlinda Birawa, lulusan Antropologi Universitas Hasanuddin yang aktif bergiat di Antropos Indonesia dan pernah terlibat dalam penelitian industri film Makassar bersama komunitas SINERIA.
Dalam sesi tanya jawab, salah satu peserta, Dian Aditya Ning Lestari (Diku), seorang aktivis gender, menanyakan bagaimana konsep gender direpresentasikan dalam perfilman. Menanggapi hal tersebut, pembicara, Tonny Trimarsanto, menyampaikan, “memang perlu ada keseimbangan idealisme film dan pasar, tapi saya seringkali membahas minoritas gender seperti transpuan dalam film saya.”
Tonny Trimarsanto sendiri adalah salah satu sineas dokumenter paling konsisten di Indonesia. Sejak tahun 1990-an, ia menghasilkan berbagai film dokumenter yang menyoroti isu-isu sosial, politik, dan kemanusiaan, termasuk kelompok marginal yang jarang mendapat ruang di media arus utama. Ia mendirikan Rumah Dokumenter di Klaten sebagai pusat produksi sekaligus pelatihan, yang melahirkan banyak generasi baru pembuat film dokumenter.
Pada malam harinya, publik Makassar menikmati pemutaran film dokumenter Under the Moonlight. Film ini menggambarkan kehidupan di sebuah pesantren di Yogyakarta yang seluruh murid dewasanya adalah transgender. Pesantren tersebut menjadi ruang aman bagi mereka untuk hidup sesuai dengan keinginan, meskipun dunia luar penuh dengan kekerasan. Pemutaran film ini dimoderatori oleh Feby Ardiatri Pasangka, lulusan Jurnalistik Universitas Hasanuddin yang berprofesi sebagai peneliti, fotografer, sekaligus pembuat film dokumenter dengan fokus pada isu-isu budaya di wilayah Indonesia Timur. Feby aktif memproduksi karya visual yang merekam dinamika sosial masyarakat Sulawesi Selatan.
Dalam sesi pemaparan dan diskusi setelah film, aktivis Bissu asal Sulawesi Selatan, Eman, turut menyampaikan kegelisahannya. Ia menekankan bahwa “kaum minoritas gender tidak berkembang karena stigma dan institusi yang tidak memberi ruang.” Sebagai seorang Bissu, Eman telah lama aktif memperjuangkan ruang aman bagi kelompok minoritas gender di Sulawesi Selatan dan menggunakan panggung budaya sebagai sarana advokasi. Pernyataan ini menegaskan pentingnya peran film dokumenter sebagai medium untuk membuka ruang dialog mengenai isu-isu sosial yang kerap terpinggirkan.
Acara akan berlanjut pada Sabtu, 4 Oktober 2025, dengan lokakarya eksklusif film dokumenter yang dilaksanakan di Galeri Rumata’ Artspace, Jalan Bontonompo No. 12A, Gunung Sari, Makassar. Lokakarya ini berlangsung pukul 13.00 hingga 18.00 WITA, terbatas hanya untuk 20 peserta terpilih melalui seleksi ide cerita.
Rumata’ Artspace, yang menjadi tuan rumah acara ini, merupakan pusat kebudayaan independen di Makassar yang didirikan oleh sineas Riri Riza dan novelis Ayu Utami. Sejak berdiri, Rumata’ aktif menjadi ruang pertemuan seniman, penulis, dan pembuat film, sekaligus mendorong lahirnya karya-karya baru dari generasi muda. Melalui program pemutaran film, festival, lokakarya, hingga diskusi lintas disiplin, Rumata’ telah berperan penting dalam mengembangkan ekosistem seni dan perfilman di Indonesia Timur.
Dengan terselenggaranya rangkaian program ini, Makassar diharapkan semakin memperkuat peran sebagai ruang dialog budaya dan sinema, serta menjadi wadah kreatif bagi para pegiat film dokumenter di Indonesia Timur.

