Luminasia, Makassar, 4 Oktober 2025 - Program Merekam Realita, Merangkai Sinema berlanjut pada Sabtu, 4 Oktober 2025, dengan lokakarya eksklusif film dokumenter di Galeri Rumata’ Artspace, Jalan Bontonompo No. 12A, Gunung Sari, Makassar.
Lokakarya ini diikuti oleh puluhan peserta yang menerima materi langsung dari sutradara dokumenter Indonesia, Tonny Trimarsanto, yang hadir sebagai pembicara utama. Dalam sesi ini, ia menekankan pentingnya sensitivitas sosial dalam menangkap realitas, terutama isu-isu yang sering luput dari perhatian pasar arus utama.
Trimarsanto juga membahas film-film yang pernah ia garap, termasuk karyanya tentang pengalaman korban dan keluarga korban tragedi 1965 di masa kini. Ia menekankan bagaimana seni dan dokumenter bisa menjadi medium untuk menjaga ingatan dan memberi ruang bagi suara mereka yang terpinggirkan.
Suasana lokakarya semakin kaya dengan hadirnya komunitas Bissu yang turut meramaikan acara bersama Arif Daeng Rate, aktivis pemuda sekaligus seniman Kajang. Kehadiran mereka membawa perspektif budaya dan spiritual, mempertegas bahwa dokumenter dapat menjadi ruang pertemuan lintas identitas dan pengalaman. Kru dan penggerak Rumata’ Artspace juga hadir mendukung jalannya kegiatan, memastikan lokakarya berjalan lancar sekaligus memberi ruang interaksi yang akrab antara peserta dan komunitas seni Makassar.
Menjelang akhir diskusi, aktivis perempuan Dian Aditya Ning Lestari (Diku) juga menyampaikan pertanyaan reflektif mengenai bagaimana memulihkan sejarah korban pembantaian massal 1965 jika tempat-tempat pembantaian telah berubah menjadi gedung atau pusat pertokoan. Menjawab hal itu, Trimarsanto menyampaikan, “Film dokumenter dapat menjadikan penyintas tapol 65 beserta keluarga sebagai narasumber film dokumenter serta menggunakan informasi masyarakat lokal dan folklore.”
Kegiatan ini menjadi wadah pembelajaran intensif bagi pegiat film dokumenter muda untuk menggali pengalaman dari salah satu sineas paling konsisten di Indonesia. Trimarsanto, yang mendirikan Rumah Dokumenter di Klaten, dikenal luas melalui karya-karyanya yang kerap menyoroti kelompok marginal dan isu kemanusiaan di Indonesia.
Rumata’ Artspace sebagai tuan rumah terus menunjukkan perannya sebagai ruang kebudayaan independen di Makassar. Sejak didirikan oleh sineas Riri Riza dan novelis Ayu Utami, Rumata’ menjadi titik temu seniman lintas disiplin serta wadah berkembangnya ekosistem film di Indonesia Timur.

