LUMINASIA.ID - A Widya Warsa Syadzwina resmi meraih gelar Doktor Ilmu Komunikasi di Universitas Hasanuddin setelah berhasil mempertahankan disertasinya berjudul Komunikasi dan Olahraga: Studi Manajemen Komunikasi Liga Sepakbola Indonesia di Era Digital (Sport and Communication: Study of Communication Management of Indonesian Football League in the Digital Era) di Program Pascasarjana Universitas Hasanuddin, Makassar.
Sidang promosi doktor wanita yang lebih dikenal dengan nama Widya Syadzwina atau Wina ini berlangsung di Aula Pascasarjana Unhas, Kamis (30/10/2025).
Sidang dihadiri sejumlah tokoh penting, di antaranya Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin, Wakil Bupati Maros A Muetazim Mansyur, serta mantan Wali Kota Makassar Ilham Arief Sirajuddin.
Kehadiran mereka menjadi bentuk dukungan terhadap pencapaian akademik A. Widya Warsa Syadzinna yang juga dikenal aktif dalam bidang komunikasi publik dan sosial kemasyarakatan.
Dalam disertasinya, Wina meneliti secara mendalam bagaimana manajemen komunikasi diterapkan dalam penyelenggaraan Liga Sepakbola Indonesia di tengah perkembangan era digital.
Penelitiannya menyoroti transformasi komunikasi antara pengelola liga, klub, media, dan publik, serta strategi komunikasi digital yang diterapkan untuk membangun citra positif dan memperkuat hubungan dengan berbagai pemangku kepentingan dalam dunia olahraga nasional.
A Widya Warsa Syadzwina tercatat dengan Nomor Induk Mahasiswa E033202011 pada Program Studi S3 Ilmu Komunikasi.
Tim promotor terdiri atas Prof. Dr. H. Hafied Cangara, M.Sc. sebagai Promotor, Prof. Dr. Andi Alimuddin Unde, M.Si sebagai Co-Promotor I, dan Prof. Dr. Tuti Bahfarti, S.Sos., M.Si sebagai Co-Promotor II.
Adapun tim penguji meliputi Dr. Agus Rusdiana, S.Pd., M.A., Ph.D. sebagai penguji eksternal, serta Dr. Muhammad Farid, M.Si, Dr. Hasrullah, M.A., dan Dr. Muliadi Mau, S.Sos., M.Si sebagai penguji internal.
Dalam pemaparannya, Widya menjelaskan bahwa topik tersebut lahir dari perhatiannya terhadap dinamika komunikasi di industri olahraga yang semakin berkembang pesat di era digital.
“Sepak bola bukan hanya tentang pertandingan di lapangan, tetapi juga tentang bagaimana komunikasi dikelola secara profesional di balik layar. Di era digital, komunikasi menjadi jantung dari pengelolaan liga dan citra sepak bola nasional,” ujarnya.
Ia menambahkan, kehadiran teknologi digital membawa perubahan besar terhadap pola komunikasi antara liga, klub, media, dan masyarakat.
“Media sosial dan platform digital membuka ruang baru yang lebih interaktif. Tantangannya adalah bagaimana semua pihak mampu mengelola arus informasi ini secara strategis agar tetap membangun kepercayaan publik dan menjaga nilai sportivitas,” kata Wina.
Penelitian ini menegaskan pentingnya manajemen komunikasi strategis dalam mengelola organisasi olahraga di tengah ekosistem digital yang semakin kompetitif.
Melalui pemanfaatan media sosial, teknologi informasi, dan pola komunikasi partisipatif, liga sepak bola Indonesia dinilai dapat memperkuat konektivitas dengan audiens luas sekaligus meningkatkan transparansi dan profesionalisme pengelolaan kompetisi.
Dipuji Munafri
Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin menilai dunia sepak bola kini telah menjadi ruang pembelajaran yang luas, bukan hanya bagi para atlet dan pelatih, tetapi juga bagi kalangan akademisi dan profesional yang ingin memahami pentingnya manajemen dan ilmu terapan di berbagai bidang.
“Inilah dunia sepak bola yang bisa memberikan banyak sekali harapan dan selalu menjadi contoh di setiap tema yang berhubungan dengan tim,” ujar Munafri dalam sambutannya.
Ia menilai bahwa manajemen di dunia sepak bola menjadi cerminan dari kolaborasi, disiplin, dan kepemimpinan yang dapat diterapkan dalam berbagai sektor.
“Kita selalu mengambil contoh dari sepak bola, terutama dalam manajemen dan pengelolaan internal. Hari ini berbeda karena sepak bola sudah masuk ke dalam ranah sports science, dan ini menjadi kewajiban kita semua untuk menghubungkannya dengan dunia profesional agar bisa diaplikasikan di perusahaan masing-masing,” lanjutnya.
Menurutnya, pendekatan sports science kini menjadi kebutuhan penting untuk kemajuan industri olahraga nasional. Ia menegaskan bahwa ilmu dan riset harus berjalan beriringan dengan pengalaman praktis agar sepak bola Indonesia bisa lebih kompetitif.
Munafri juga menyoroti masih sedikitnya perempuan yang terlibat langsung dalam dunia sepak bola dengan pemahaman ilmiah yang kuat.
“Masih ada beberapa perempuan yang punya pengalaman, tetapi belum banyak yang memahami sepak bola dari sisi sports science. Karena itu saya sangat mengapresiasi kehadiran perempuan-perempuan seperti Widya yang mampu menembus batas tersebut,” katanya.
Sebagai tokoh yang pernah bekerja sama dengan Wina di dunia sepak bola, Munafri mengenang bagaimana peran dan kontribusinya dalam mengelola klub dan membangun profesionalitas di tingkat nasional maupun Asia.
“Selama saya bekerja sama dengan Wina, saya melihat langsung bagaimana ia mengurus media, mengatur klub, dan menjaga koordinasi tim. Menurut saya, ia adalah perempuan pertama di Indonesia yang menjadi manajer klub di tingkat Asia. Itu tidak mungkin dicapai kalau tidak ada potensi besar dan semangat belajar di dalam dirinya,” tutup Munafri.

