Luminasia, Gowa — Dalam suasana peringatan Hari Pahlawan, komunitas Gowa Movie Society bersama RAKIT Gowa menggelar “Nonton Bareng dan Diskusi Film Hari Pahlawan” di RAKIT Gowa, Jalan Dahlia, Batang Kaluku, Kabupaten Gowa, pada Senin malam (10/11/2025). Kegiatan tersebut menjadi ruang refleksi bagi masyarakat untuk meninjau ulang konsep kepahlawanan melalui medium film.
Acara yang dimulai pukul 19.30 WITA ini menayangkan dua film klasik bertema perjuangan, yaitu Tapak-Tapak Kaki Wolter Monginsidi dan Doea Tanda Mata karya Teguh Karya. Kedua film dipilih untuk menghadirkan kembali nilai keberanian, penolakan terhadap ketidakadilan, dan kemanusiaan dalam bingkai sejarah Indonesia.
Arif, inisiator Gowa Movie Society, menyebut kegiatan ini sebagai bentuk upaya menghidupkan kembali kesadaran sejarah di tengah masyarakat modern.
“Film adalah ruang perenungan yang tak kalah sakral dari monumen perjuangan. Kami ingin menghadirkan pahlawan bukan sekadar sebagai simbol masa lalu, tapi sebagai cara berpikir baru tentang keberanian dan kemanusiaan,” ujarnya.
Peserta turut memberikan pandangan kritis. Arbaina mengatakan bahwa kegiatan ini membuka perspektif baru mengenai perjuangan.
“Nonton bareng seperti ini bikin kita sadar bahwa perjuangan tidak selalu soal senjata. Kadang, yang paling berat adalah melawan diam dan abai,” ucapnya.
Asrianto dari TBM BallaBaca menilai diskusi tersebut sebagai praktik literasi yang dinamis.
“Diskusi film seperti ini menghubungkan budaya baca dan budaya tonton. Anak muda tidak hanya diajak mencari informasi, tapi juga diajarkan bagaimana mengolah makna dari apa yang mereka lihat,” jelasnya.
Salah satu peserta lain, Dian Aditya Ning Lestari, menambahkan pandangan kritis terhadap narasi kepahlawanan yang umum dipahami masyarakat.
“Menonton film RW Monginsidi di Hari Pahlawan merupakan bentuk pemberontakan, terhadap apa yang semestinya kita sebut pahlawan dan apa yang tidak,” ujarnya dalam sesi diskusi.
Selain menonton film, peserta juga melakukan refleksi mengenai bentuk-bentuk kepahlawanan masa kini, seperti keberanian bersuara, kesediaan membantu sesama, dan komitmen menjaga ruang publik yang kritis dan inklusif. Diskusi berlangsung hangat, melibatkan pelajar, pegiat komunitas, dan warga sekitar.
Kegiatan kemudian ditutup dengan renungan bersama mengenai bagaimana nilai kepahlawanan dapat diterapkan dalam tindakan sehari-hari, mulai dari menggerakkan ruang baca, menjaga ingatan kolektif sejarah, hingga memaknai film sebagai sarana pendidikan publik.
Acara ini menjadi pengingat bahwa memperingati Hari Pahlawan tidak hanya melalui upacara seremonial, tetapi juga dengan membangun kesadaran kritis dan keberanian untuk mendefinisikan ulang siapa pahlawan dalam kehidupan kita hari ini.

