LUMINASIA.ID, AMBON — Badan Gizi Nasional (BGN) terus memperluas implementasi Program Makan Bergizi Gratis (MBG) melalui penguatan kolaborasi bersama pemerintah daerah, komunitas, serta pelaku usaha lokal.
Upaya tersebut ditandai dengan pelaksanaan sosialisasi Program MBG di Ambon, Maluku, Kamis (7/5/2026).
Kegiatan ini menjadi bagian dari strategi percepatan pemerataan layanan gizi nasional sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat berbasis potensi daerah.
Sosialisasi dihadiri Plt Deputi Bidang Promosi dan Kerja Sama Badan Gizi Nasional, Dr. Gunalan, Gubernur Maluku Hendrik Lewerissa, jajaran pemerintah daerah, tokoh agama, tokoh masyarakat, tokoh pemuda, hingga berbagai komunitas di Maluku.
Dalam pemaparannya, Dr. Gunalan menegaskan bahwa Program MBG kini berkembang menjadi salah satu program pemenuhan gizi berbasis sekolah terbesar di dunia.
“Program MBG tidak hanya fokus pada pemenuhan kebutuhan gizi anak-anak Indonesia, tetapi juga menjadi penggerak ekonomi masyarakat melalui keterlibatan koperasi, UMKM, petani, nelayan, dan komunitas lokal. Kolaborasi seluruh elemen masyarakat menjadi kunci keberhasilan program ini,” ujar Gunalan.
Ia menjelaskan, distribusi Program MBG saat ini telah menjangkau jutaan penerima manfaat setiap hari di berbagai daerah di Indonesia. Selain meningkatkan kualitas gizi anak, program tersebut juga dinilai mampu membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat.
Menurut Gunalan, keberadaan dapur layanan MBG atau Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) telah menciptakan lapangan kerja baru di berbagai wilayah. Pemerintah juga terus memperluas pembangunan SPPG untuk meningkatkan jangkauan layanan, termasuk di daerah terpencil dan kepulauan.
“Untuk wilayah Maluku sendiri, pemerintah telah menyiapkan pengembangan ratusan SPPG tambahan agar layanan MBG dapat menjangkau lebih banyak masyarakat, termasuk di wilayah 3T,” jelasnya.
Sementara itu, Gubernur Maluku Hendrik Lewerissa menegaskan komitmen Pemerintah Provinsi Maluku dalam mendukung percepatan implementasi Program MBG di seluruh kawasan kepulauan Maluku.
“Program MBG bukan sekadar penyediaan makanan bergizi, tetapi juga menjadi instrumen strategis dalam memperkuat ekonomi daerah melalui pemanfaatan bahan pangan lokal dan keterlibatan pelaku usaha masyarakat,” kata Hendrik.
Ia menilai potensi pangan lokal Maluku seperti hasil laut, sagu, hasil pertanian, hingga produk UMKM harus menjadi bagian utama rantai pasok Program MBG agar manfaat ekonominya dapat dirasakan langsung oleh masyarakat setempat.
Meski demikian, Hendrik mengakui tantangan geografis kepulauan masih menjadi hambatan dalam pemerataan distribusi layanan gizi di Maluku. Karena itu, dibutuhkan kolaborasi kuat antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, komunitas, dan seluruh pemangku kepentingan agar layanan MBG dapat menjangkau wilayah terpencil secara optimal.
Melalui sosialisasi ini, pemerintah berharap pemahaman masyarakat terhadap pentingnya Program MBG semakin meningkat, sekaligus memperkuat partisipasi berbagai pihak dalam mendukung peningkatan kualitas gizi generasi muda Indonesia secara berkelanjutan.

