LUMINASIA.ID, INTERNASIONAL - Pemerintah Gabon mengambil langkah tegas usai kegagalan tim nasional di ajang Africa Cup of Nations. Timnas Gabon resmi dibekukan untuk sementara waktu, dua pemain senior dikeluarkan dari skuad, dan pelatih kepala dicopot dari jabatannya menyusul hasil buruk di fase grup.
Dilansir Yahoo, keputusan tersebut diumumkan oleh Menteri Olahraga Gabon, Simplice Desire Mamboula, setelah kekalahan 2-3 dari Ivory Coast pada 31 Desember. Hasil itu menjadi penutup perjalanan Gabon di turnamen yang digelar di Maroko, sekaligus menegaskan posisi mereka sebagai juru kunci grup.
Sebelum takluk dari Pantai Gading, Gabon sudah lebih dulu menelan kekalahan dari Cameroon dan Mozambique. Rangkaian penampilan tersebut dinilai sangat mengecewakan oleh pemerintah. Mamboula bahkan menyebut performa tim sebagai sesuatu yang memalukan.
“Mengingat penampilan Panthers yang memalukan di Piala Afrika, pemerintah memutuskan untuk membubarkan staf pelatih, menskors tim nasional hingga waktu yang belum ditentukan, serta mengecualikan pemain Bruno Ecuele Manga dan Pierre Emerick Aubameyang,” ujar Mamboula dalam pernyataan resminya.
Meski sudah dipastikan tersingkir sebelum laga terakhir, Gabon sempat unggul dua gol dalam pertandingan penutup grup yang berlangsung di Marrakesh. Namun keunggulan itu sirna setelah lawan mampu membalikkan keadaan dan mengakhiri laga dengan kemenangan 3-2.
Penyerang senior Pierre Emerick Aubameyang sendiri tidak tampil pada laga terakhir tersebut. Mantan penyerang Arsenal dan Chelsea itu kembali ke Marseille untuk menjalani perawatan cedera paha. Menanggapi keputusan pemerintah yang mencoret namanya, Aubameyang menyatakan, “Saya pikir masalah tim jauh lebih dalam daripada individu saya.”
Sementara itu, pelatih kepala Thierry Mouyouma resmi diberhentikan setelah menjabat selama sedikit lebih dari dua tahun. Keputusan ini menandai berakhirnya masa kepemimpinannya di tim nasional Gabon.
Langkah pembekuan tim nasional seperti ini sebenarnya pernah menjadi hal lumrah di sepak bola Afrika ketika hasil tidak sesuai harapan. Namun praktik tersebut kini semakin jarang terjadi seiring sikap FIFA yang kian ketat terhadap campur tangan pemerintah dalam urusan federasi sepak bola nasional.

