LUMINASIA.ID, INTERNASIONAL - Masa depan Ivar Jenner bersama FC Utrecht dikabarkan berada di ujung tanduk. Media Belanda menyebutkan bahwa gelandang Timnas Indonesia tersebut berpeluang besar tersingkir dari skuad utama setelah dinilai gagal memenuhi ekspektasi tim pelatih.
Laporan tersebut disampaikan oleh harian ternama Belanda, Algemeen Dagblad, yang menyoroti kontribusi Jenner selama membela Utrecht. Penampilannya disebut belum memberikan dampak signifikan, baik dari sisi permainan maupun konsistensi di lapangan.
Dilansir suara.com, situasi ini membuat posisi Jenner semakin sulit, terlebih persaingan di lini tengah FC Utrecht dinilai sangat ketat. Klub Eredivisie itu juga tengah melakukan evaluasi menyeluruh terhadap komposisi pemain menjelang fase kompetisi berikutnya, termasuk kemungkinan melakukan perombakan skuad.
Bagi Timnas Indonesia, kabar ini tentu menjadi perhatian tersendiri. Minimnya menit bermain di level klub berpotensi memengaruhi kondisi dan performa sang pemain saat memperkuat tim nasional pada agenda internasional mendatang.
Hingga kini, belum ada pernyataan resmi dari pihak FC Utrecht maupun Ivar Jenner terkait kabar tersebut. Namun, sorotan media Belanda menandakan bahwa sang pemain berada dalam fase krusial kariernya, di mana keputusan klub dalam waktu dekat akan sangat menentukan langkah selanjutnya.
Dilansir Jawapos, pelatih kepala Ron Jans disebut sudah beberapa kali memberikan ruang bagi sang gelandang untuk membuktikan kualitasnya di lapangan. Namun, peluang tersebut belum mampu dimanfaatkan secara maksimal, karena performa Jenner dinilai belum sesuai dengan standar yang diharapkan staf pelatih.
Penilaian tersebut membuat posisi Jenner di dalam skuad utama Utrecht semakin rentan. Minimnya kontribusi dan konsistensi permainan menjadi faktor utama yang memicu spekulasi mengenai masa depannya, terutama di tengah ketatnya persaingan pemain di lini tengah klub Eredivisie tersebut.
Secara administratif, Jenner sebenarnya masih memiliki ikatan kontrak bersama FC Utrecht hingga Juni 2026. Meski demikian, durasi kontrak panjang bukan jaminan keberlanjutan karier seorang pemain, terutama ketika kepercayaan pelatih mulai menurun.
Dalam dinamika sepak bola modern, kondisi semacam ini kerap berujung pada keputusan untuk mengakhiri kerja sama lebih awal. Opsi perpisahan sebelum kontrak berakhir sering dianggap sebagai jalan tengah yang menguntungkan, baik bagi klub maupun pemain yang membutuhkan kesempatan baru untuk menghidupkan kembali kariernya.

