LUMINASIA.ID, BOLA - Massimiliano Allegri datang ke Juventus di tengah gelombang skeptisisme. Ditunjuk menggantikan Antonio Conte—pelatih yang membawa Bianconeri meraih tiga Scudetto beruntun—Allegri langsung menghadapi tekanan besar bahkan sebelum ia benar-benar duduk nyaman di kursi pelatih. Protes suporter pecah, keraguan media menguat, dan bayang-bayang Conte terasa di setiap sudut Continassa.
Namun, di balik semua itu, Allegri justru memilih jalur yang berbeda: ketenangan.
Alih-alih terpancing oleh kritik, pelatih yang sebelumnya menangani AC Milan itu tetap teguh pada pendekatannya. Ketika motivasi timnya dipertanyakan pada Oktober, Allegri menjawab dengan kalimat sederhana namun sarat makna.
“Sedikit demi sedikit kita akan melihat sampai di mana kita bisa melangkah,” ujarnya kala itu.
Pernyataan tersebut kini terasa profetik. Juventus di bawah Allegri tak hanya berhasil merebut gelar Serie A dan Coppa Italia, tetapi juga melangkah ke final Liga Champions. Sebuah pencapaian yang menegaskan bahwa ketenangan bisa menjadi senjata mematikan.
Salah satu ujian terberat Allegri adalah hubungannya dengan Andrea Pirlo. Keduanya memiliki sejarah rumit sejak di Milan, ketika Allegri memutuskan melepas sang maestro pada 2011. Di Juventus, konflik kembali muncul saat Allegri berniat menempatkan Pirlo di sisi kiri lini tengah. Pirlo merasa keputusan itu seolah meniadakan identitasnya sebagai pengatur permainan.
Namun Allegri menunjukkan kualitas yang jarang dimiliki: keberanian mengakui kesalahan. Ia menyesuaikan pendekatannya dan memastikan Pirlo tetap menjadi pusat permainan. Keputusan itu terbukti krusial dalam perjalanan Juventus musim ini.
Dari luar, Allegri kerap dicap kaku dan konservatif. Namun di ruang ganti, ia dikenal sebagai figur yang rasional dan protektif terhadap pemainnya. Ia tidak mencari pembenaran di media, tidak pula menyalahkan individu. Fokusnya hanya satu: hasil.
Kini, di Berlin, Allegri berdiri di ambang sejarah. Jika Juventus mampu menaklukkan Barcelona, ia akan menutup musim dengan treble—sebuah jawaban telak bagi semua keraguan yang mengiringi kedatangannya.
Dari pelatih yang diragukan, menjadi arsitek kebangkitan. Dari sosok yang diprotes, menjadi pemimpin yang dipercaya. Massimiliano Allegri membuktikan bahwa dalam sepak bola, bukan suara paling keras yang menang, tetapi mereka yang paling sabar dan paling konsisten.

