LUMINASIA, NASIONAL - Umat Islam akan kembali menjumpai momen Nisfu Syaban pada awal Februari 2026. Berdasarkan kalender Hijriah 1447 H, malam Nisfu Syaban diperkirakan jatuh pada Senin malam, 2 Februari 2026, dimulai sejak waktu maghrib.
Dilansir Detik, Nisfu Syaban, yang berarti pertengahan bulan Syaban, selama ini dikenal sebagai malam yang dinilai mulia oleh sebagian ulama. Namun, di balik popularitasnya, terdapat perbedaan pandangan ilmiah yang menarik untuk dicermati, khususnya terkait keutamaan dan amalan yang dianjurkan.
Perbedaan Pendapat Ulama soal Keutamaan
Sejumlah ulama menilai malam Nisfu Syaban memiliki keistimewaan, merujuk pada hadis yang menyebutkan bahwa Allah SWT memberikan ampunan kepada hamba-Nya pada malam tersebut, kecuali bagi orang musyrik dan yang masih menyimpan permusuhan.
Namun, sebagian ulama lainnya berpendapat bahwa hadis-hadis tentang keutamaan Nisfu Syaban tidak cukup kuat untuk dijadikan dasar pengkhususan ibadah tertentu. Perbedaan penilaian terhadap kualitas hadis inilah yang membuat umat Islam dianjurkan bersikap bijak dan tidak saling menyalahkan.
Tidak Ada Amalan Khusus yang Wajib
Meski ada yang memuliakan malam Nisfu Syaban, mayoritas ulama sepakat bahwa tidak ada amalan ibadah khusus yang diwajibkan atau disunnahkan secara spesifik pada malam tersebut.
Artinya, umat Islam tidak dituntut untuk melakukan ritual tertentu dengan jumlah rakaat atau bacaan tertentu. Sebaliknya, malam Nisfu Syaban dianjurkan diisi dengan ibadah secara umum, sebagaimana malam-malam mulia lainnya.
Amalan yang Dianjurkan Secara Umum
Bagi umat Islam yang ingin menghidupkan malam Nisfu Syaban, sejumlah amalan berikut dapat dilakukan tanpa mengkhususkannya sebagai ritual wajib:
-
Sholat sunnah mutlak atau tahajud
-
Memperbanyak dzikir dan istighfar
-
Membaca Al-Qur’an
-
Berdoa dan bermuhasabah diri
-
Memperbaiki hubungan dengan sesama dan menghindari permusuhan
Para ulama menekankan bahwa esensi Nisfu Syaban terletak pada persiapan spiritual menuju bulan Ramadhan, bukan pada perlombaan ritual tertentu.
Menjaga Sikap Toleran dalam Beribadah
Perbedaan pendapat terkait Nisfu Syaban hendaknya disikapi dengan lapang dada. Menghidupkan malam tersebut dengan ibadah pribadi diperbolehkan, selama tidak disertai keyakinan bahwa ada tata cara ibadah khusus yang bersifat wajib atau pasti bersumber dari Nabi SAW.
Dengan memahami perbedaan pandangan ulama, umat Islam diharapkan dapat menjalani Nisfu Syaban dengan penuh ketenangan, keikhlasan, dan semangat memperbaiki diri menjelang Ramadhan.

