LUMINASIA.ID, AUSTRALIA - Keputusan Oliver Glasner untuk meninggalkan Crystal Palace di akhir musim bukan sekadar akhir dari sebuah kontrak, melainkan penutup fase paling bersejarah dalam perjalanan klub asal London Selatan tersebut. Di tengah performa yang menurun, manajer asal Austria itu justru memilih memastikan transisi berjalan tenang dan terencana.
Dilansir Yahoo, Glasner telah memberi tahu chairman Steve Parish sejak Oktober lalu bahwa ia tidak akan memperpanjang masa baktinya. Langkah itu diambil jauh sebelum Palace memasuki periode sulit, menegaskan bahwa keputusannya didorong oleh kebutuhan pribadi akan tantangan baru, bukan hasil di lapangan atau kebijakan transfer klub.
Di bawah Glasner, Crystal Palace mencatatkan tonggak yang belum pernah terjadi sebelumnya. Gelar FA Cup musim lalu—hasil kemenangan 1-0 atas Manchester City—menjadi trofi mayor pertama sepanjang sejarah klub sekaligus tiket menuju kompetisi Eropa. Palace pun menjalani debut di turnamen kontinental dengan tampil di Europa Conference League.
Meski kini Palace tengah melewati sembilan laga tanpa kemenangan dan tersingkir lebih awal dari FA Cup musim ini, kontribusi Glasner tak tergerus oleh hasil jangka pendek. Ia tetap menegaskan komitmennya untuk mengakhiri musim dengan kuat, bahkan menargetkan rekor poin tertinggi klub di Premier League.
Manajemen klub disebut sengaja menunda pengumuman kepergian Glasner demi menjaga stabilitas ruang ganti, terutama di tengah bursa transfer. Dengan kejelasan masa depan yang kini terbuka, Palace diharapkan bisa fokus penuh pada performa tanpa spekulasi berlarut-larut.
Saat ini Palace berada di peringkat ke-13 klasemen sementara Premier League. Glasner pun masih berambisi menutup perjalanannya dengan prestasi tambahan sebelum resmi meninggalkan Selhurst Park pada musim panas mendatang.
Terlepas dari hasil akhir musim ini, Oliver Glasner akan dikenang sebagai sosok yang mengubah status Crystal Palace—dari sekadar penghuni papan tengah menjadi klub bertrofi dan berpengalaman di panggung Eropa.

