LUMINASIA, SPORT – Gemuruh Istora Senayan kembali menemukan nadanya. Bukan lewat nama lama, melainkan dari seorang remaja 19 tahun bernama Alwi Farhan yang mengirim pesan jelas: regenerasi tunggal putra Indonesia bukan wacana, melainkan kenyataan.
Dilansir Antara, kemenangan telak Alwi atas wakil Thailand Panitchaphon Teeraratsakul di final Daihatsu Indonesia Masters 2026 menjadi lebih dari sekadar gelar juara. Di hadapan publik sendiri, Alwi tampil tanpa beban, mengontrol tempo sejak poin awal, dan menutup laga hanya dalam 25 menit—sebuah penampilan yang mencerminkan kematangan di usia yang masih sangat muda.
Keberhasilan ini terasa signifikan karena datang di tengah sorotan terhadap sektor tunggal putra yang dalam beberapa tahun terakhir kerap dianggap mengalami stagnasi. Setelah dua edisi tanpa juara tuan rumah, Istora kembali menyaksikan bendera Merah Putih berkibar di podium tertinggi—kali ini lewat generasi baru.
Alwi bukan hanya menang, tetapi menang dengan cara meyakinkan. Variasi serangan, ketenangan di depan net, serta kemampuan membaca permainan lawan menunjukkan bahwa ia tidak sekadar mengandalkan tenaga, melainkan juga kecerdasan bermain.
Bagi penonton Istora, kemenangan ini menghadirkan harapan segar. Sosok Alwi menjadi representasi transisi dari dominasi pemain senior menuju generasi Gen Z yang siap memikul ekspektasi besar bulu tangkis Indonesia di level dunia.
Usai pertandingan, Alwi menyebut gelar ini sebagai awal, bukan puncak. Target berikutnya sudah menanti, namun Indonesia Masters 2026 akan selalu tercatat sebagai momen ketika publik Istora menyambut lahirnya pemimpin baru di sektor tunggal putra.
Lebih dari trofi, Alwi meninggalkan pesan penting: masa depan tunggal putra Indonesia sedang tumbuh—dan Istora menjadi saksi pertamanya.

