LUMINASIA.ID, SPORT - Pertarungan semifinal Australian Open 2026 antara Novak Djokovic dan Jannik Sinner bukan hanya soal kualitas pukulan, tetapi juga ujian daya tahan fisik dan ketangguhan mental. Di tengah skor ketat yang silih berganti, tanda-tanda kelelahan Djokovic mulai terlihat, sementara Sinner tampil semakin tenang sebagai juara bertahan.
Dilansir telegraph, Djokovic, yang mengincar gelar Grand Slam ke-25 sepanjang kariernya, sempat bangkit dengan memenangkan set kedua. Namun memasuki set ketiga dan keempat, ritme permainan petenis Serbia berusia 38 tahun itu perlahan menurun. Beberapa kali kamera menangkap Djokovic batuk, memperlambat rutinitas servis, hingga meminta minuman tambahan dari sudut lapangan—indikasi jelas bahwa fisiknya mulai terkuras.
Sebaliknya, Sinner justru tampil stabil di momen-momen krusial. Petenis Italia berusia 24 tahun itu memaksimalkan serve placement, forehand agresif, dan ketenangan saat break point, terutama ketika Djokovic terlihat kehilangan ketajaman reli panjang. Break penting di set ketiga menjadi titik balik yang menguatkan posisi Sinner dalam pertandingan.
Momen simbolik terjadi ketika Djokovic menjatuhkan diri ke kursi pemain dan menutup wajahnya dengan handuk, usai gagal memanfaatkan peluang break. Adegan itu menegaskan betapa besar tekanan fisik dan mental yang harus ia hadapi melawan lawan yang lebih muda dan segar.
Di set keempat, Djokovic sempat menunjukkan perlawanan dengan permainan menyerang dan variasi serve-and-volley. Namun Sinner kembali memperlihatkan kedewasaan sebagai juara bertahan, meredam tekanan dengan servis akurat dan pengambilan keputusan yang disiplin.
Laga ini menjadi gambaran peralihan generasi di tenis dunia: pengalaman dan mental baja Djokovic masih memberi perlawanan sengit, tetapi stamina dan konsistensi Sinner mulai menjadi faktor pembeda di level tertinggi.
Jika tren ini berlanjut, Australian Open 2026 berpotensi menjadi panggung yang semakin menegaskan era baru, tanpa sepenuhnya menghapus bayang-bayang sang legenda.

