LUMINASIA.ID, Jakarta – Kepergian ayah Apoy Wali Band, H Aceng Madari bin Ibrahim, bukan hanya meninggalkan duka mendalam bagi keluarga, tetapi juga menyisakan kisah tentang bakti seorang anak hingga detik terakhir. Di tengah kesedihan, Apoy memilih hadir sepenuhnya—bukan sebagai musisi terkenal, melainkan sebagai anak yang mengantar ayahnya pulang untuk selamanya.
Dilansir Liputan 6, sejak di rumah duka hingga pemakaman, Apoy tampak terlibat langsung dalam setiap prosesi. Ia memanggul keranda, menurunkan jenazah ke liang lahad, dan melantunkan kalimat-kalimat kebesaran Tuhan dengan suara bergetar menahan tangis. Momen itu menjadi simbol lingkaran hidup yang menyentuh: ayahnya dahulu mengazani Apoy saat lahir, kini Apoy yang mengumandangkan seruan perpisahan bagi sang ayah.
Dalam tayangan Halo Selebriti yang dibagikan ulang SCTV, Apoy mengungkap bahwa keputusan membawa ayahnya pulang dari rumah sakit adalah hasil musyawarah keluarga dan telah diserahkan sepenuhnya kepada kehendak Tuhan. Ia menyebut momen tersebut sebagai bentuk keikhlasan dan cinta terakhir keluarga kepada mendiang.
Namun lebih dari itu, Apoy menjadikan kepergian sang ayah sebagai pengingat bagi banyak orang. Ia menekankan pentingnya menghargai orang tua selagi masih ada, melayani mereka sebaik mungkin tanpa menunggu penyesalan datang terlambat.
“Kalau orang tua sudah tidak ada, kita mau berbuat apa pun rasanya sudah tidak mungkin lagi,” ujar Apoy dengan nada lirih.
Ungkapan duka juga ia sampaikan lewat Instagram Stories. Dalam tulisan yang menyentuh, Apoy mengenang suara ayahnya sebagai suara pertama yang ia dengar di dunia—sebuah kenangan yang kini abadi, bahkan setelah kepergian.
Di tengah sorotan publik dan dunia hiburan, Apoy Wali Band menunjukkan bahwa kehilangan adalah pengalaman paling manusiawi. Dan dalam duka itu, ia memilih menjalani perannya sebagai anak hingga tuntas—dengan air mata, doa, dan bakti yang tak terputus.

