LUMINASIA.ID, SPORT - Inter Miami akan menutup tur pramusim Amerika Selatan mereka dengan menghadapi raksasa Ekuador, Barcelona SC, pada Sabtu malam di Estadio Monumental Banco Pichincha, Guayaquil. Laga ini bukan sekadar uji coba biasa, tetapi kesempatan terakhir bagi pelatih Javier Mascherano untuk mematangkan komposisi tim sebelum memasuki rangkaian pertandingan resmi MLS.
Berbeda dengan dua pertandingan sebelumnya yang lebih berfungsi sebagai pemanasan, duel kontra Barcelona SC bisa menjadi tolok ukur seberapa siap The Herons menghadapi musim baru. Setelah kalah 0-3 dari Alianza Lima di partai pembuka, Miami menunjukkan reaksi positif lewat kemenangan 2-1 atas Atlético Nacional. Luis Suárez mulai menemukan sentuhan, sementara intensitas permainan meningkat dibanding laga pertama.
Sorotan utama tetap mengarah kepada Lionel Messi. Megabintang Argentina itu masih memburu gol pertamanya pada 2026. Walau pramusim, setiap menit bermain menjadi penting untuk membangun ritme, terlebih Miami ingin datang ke laga pembuka MLS dengan kondisi tajam. Kombinasinya bersama Suárez serta dukungan gelandang anyar Rodrigo de Paul memberi harapan bahwa produktivitas serangan akan segera meledak.
Mascherano kemungkinan kembali menurunkan kekuatan terbaiknya. Perekrutan kiper terbaik MLS 2025 Dayne St. Clair menambah rasa aman di lini belakang, sementara Facundo Mora memberi opsi baru di sisi pertahanan. Namun Miami tetap harus kehilangan Sergio Reguilón yang mengalami cedera lutut pada awal pramusim.
Bagi Barcelona SC, pertandingan ini membawa gengsi tersendiri. Klub yang menutup musim liga Ekuador 2025 di posisi ketiga itu akan memanfaatkan dukungan publik Guayaquil untuk menguji tim bertabur bintang milik tamu. Nama besar Messi dan Suárez jelas menjadi magnet, tetapi tuan rumah ingin membuktikan bahwa mereka bukan sekadar latar panggung tur Miami.
Setelah laga ini, Inter Miami akan kembali ke Amerika Serikat untuk menyelesaikan satu pertandingan pramusim terakhir sebelum benar-benar memasuki atmosfer kompetitif. Artinya, duel di Guayaquil menjadi momen krusial: kesempatan terakhir memperbaiki detail, menguatkan chemistry, sekaligus—yang paling dinanti—melihat apakah Messi akhirnya membuka rekening golnya tahun ini.

