LUMINASIA.ID - Pemerintah Inggris melayangkan kecaman keras terhadap platform X setelah fitur kecerdasan buatan (AI) miliknya, Grok, menghasilkan konten yang dinilai menghina sejumlah tragedi besar dalam sejarah sepak bola.
Konten tersebut memicu kemarahan publik karena memuat narasi yang menyinggung berbagai peristiwa kelam, termasuk Hillsborough disaster, Heysel Stadium disaster, hingga Munich air disaster.
Unggahan itu juga disebut-sebut menyentuh kematian mantan penyerang Liverpool FC, Diogo Jota.
Kasus ini bermula ketika sejumlah pengguna X meminta Grok membuat “unggahan vulgar” dan “celaan tanpa batas” terhadap Liverpool FC dan Manchester United. Namun alih-alih hanya menghasilkan candaan atau ejekan biasa antar rival klub, AI tersebut justru memproduksi konten yang menyinggung tragedi kemanusiaan yang menewaskan puluhan hingga ratusan orang.
Tragedi Hillsborough pada 1989 di Sheffield menewaskan 97 suporter Liverpool akibat desakan massa di stadion. Peristiwa ini menjadi salah satu bencana olahraga paling memilukan dalam sejarah Inggris.
Sementara itu, Heysel Stadium disaster pada final Piala Champions 1985 di Brussel menewaskan 39 orang setelah kerusuhan suporter sebelum laga antara Liverpool dan Juventus FC.
Adapun Munich air disaster pada 1958 merenggut nyawa sejumlah pemain muda Manchester United yang dikenal sebagai “Busby Babes”, setelah pesawat yang mereka tumpangi jatuh di Munich, Jerman.
Pelanggaran Nilai dan Etika
Juru bicara Department for Science, Innovation and Technology (DSIT) menegaskan konten yang dihasilkan Grok tersebut sangat tidak bertanggung jawab.
“Unggahan ini memuakkan dan tidak bertanggung jawab. Hal ini bertentangan dengan nilai-nilai dan kesopanan Inggris,” ujar pernyataan resmi DSIT kepada BBC.
Pemerintah Inggris juga menegaskan bahwa layanan AI kini berada dalam pengawasan Online Safety Act, yang mewajibkan platform digital mencegah penyebaran konten ilegal atau berbahaya, termasuk ujaran kebencian dan pelecehan.
Dampak bagi Keluarga Korban
Anggota parlemen dari Liverpool West Derby, Ian Byrne, yang juga penyintas tragedi Hillsborough, mengaku sangat terganggu dengan konten yang dihasilkan AI tersebut.
Menurutnya, teknologi seperti ini berpotensi menyebarkan kebohongan dan penghinaan terhadap korban tragedi sepak bola secara luas.
“Sangat mengganggu bahwa platform tersebut dapat mengedepankan dan mengekalkan kebohongan, fitnah, dan unggahan mengerikan yang memberikan dampak nyata. X harus berkaca dari sudut pandang tanggung jawab sosial perusahaan,” tegas Byrne.
Ia juga khawatir berbagai upaya edukasi yang selama ini dilakukan untuk menjaga ingatan publik terhadap tragedi-tragedi sepak bola bisa rusak akibat konten yang dihasilkan AI tersebut.
Respons X dan Pengawasan Regulasi
Grok sempat memberikan pembelaan kepada pengguna sebelum beberapa unggahan tersebut dihapus. AI itu menyatakan bahwa respons yang dihasilkan muncul karena permintaan eksplisit pengguna untuk membuat “celaan vulgar”.
“Saya mengikuti instruksi untuk menyampaikannya tanpa sensor tambahan. Unggahan tersebut telah dihapus dari X setelah adanya keluhan. Tidak ada niat mencelakai dari pihak saya,” tulis Grok dalam salah satu responsnya.
Namun regulator komunikasi Inggris, Ofcom, menegaskan perusahaan teknologi tetap memiliki tanggung jawab penuh terhadap konten yang muncul di platform mereka.
Di bawah Online Safety Act, perusahaan diwajibkan menilai risiko konten ilegal, mengambil langkah mitigasi, serta bertindak cepat untuk menghapus konten berbahaya.
Jika terbukti melanggar, platform teknologi dapat menghadapi sanksi serius dari regulator.
Saat ini, pihak Liverpool dan Manchester United dilaporkan telah menyampaikan keberatan resmi kepada X. Meski beberapa unggahan sudah dihapus, sejumlah konten serupa disebut masih dapat ditemukan di platform tersebut.

