LUMINASIA.ID - Mengutip laporan CNBC Indonesia, harga emas dunia mencatat penurunan tajam dan menjadi yang terburuk dalam 43 tahun terakhir.
Pada perdagangan terakhir pekan ini, Jumat (20/3/2026), harga emas dunia ditutup di posisi US$4.494,02 per troy ons atau turun 3,32 persen dalam sehari. Bahkan, dalam sepekan, harga emas tercatat merosot hingga 10,58 persen, menjadi penurunan mingguan terdalam sejak Maret 1983.
Penurunan ini dipicu oleh sejumlah faktor global, mulai dari penguatan dolar Amerika Serikat hingga kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS. Kondisi tersebut membuat emas, yang tidak memberikan imbal hasil, menjadi kurang menarik bagi investor.
Selain itu, meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah turut memperburuk sentimen pasar. Kekhawatiran terhadap lonjakan harga energi dan inflasi mendorong ekspektasi kenaikan suku bunga global, yang semakin menekan harga emas.
Seorang trader logam independen, Tai Wong, menilai volatilitas emas saat ini masih akan berlanjut. “Logam mulia menjadi sangat volatil setelah penurunan tajam minggu ini akibat kekhawatiran kenaikan suku bunga. Kemungkinan akan segera konsolidasi, tetapi pergerakannya tetap akan bergejolak,” ujarnya.
Di sisi lain, bank sentral global seperti The Federal Reserve, Bank Sentral Eropa, dan Bank of England juga diperkirakan masih mempertahankan kebijakan suku bunga tinggi untuk meredam inflasi. Hal ini menjadi sentimen negatif tambahan bagi harga emas.
Meski demikian, emas tetap dikenal sebagai instrumen lindung nilai terhadap inflasi dan ketidakpastian ekonomi dalam jangka panjang. Fluktuasi jangka pendek seperti saat ini dinilai sebagai bagian dari dinamika pasar global.
Antam menegaskan bahwa harga emas diperbarui setiap hari mengikuti pergerakan pasar internasional. Produk emas yang dipasarkan memiliki kadar kemurnian 99,99 persen serta dilengkapi teknologi CertiEye yang menjamin keaslian dan keamanan produk bagi konsumen.
Dengan kondisi pasar yang masih bergejolak, pelaku investasi diimbau untuk tetap mencermati perkembangan global sebelum mengambil keputusan, terutama di tengah tren harga emas yang sedang mengalami tekanan tajam.
Harga emas batangan produksi PT ANTAM Tbk kembali mengalami tekanan pada Sabtu, 21 Maret 2026. Penurunan ini terjadi seiring melemahnya harga emas global yang mencatat kinerja terburuk dalam beberapa dekade terakhir.
Berdasarkan pembaruan harga pukul 08.30 WIB, emas Antam pecahan 1 gram dibanderol Rp2.893.000, atau Rp2.900.233 setelah dikenakan pajak PPh 0,25 persen. Level ini menunjukkan harga emas domestik telah turun dari tren sebelumnya yang sempat menembus kisaran Rp3 juta per gram.
Untuk pecahan lainnya, harga emas Antam juga mengalami penyesuaian. Emas 0,5 gram dijual Rp1.496.500, sementara 2 gram berada di level Rp5.726.000. Adapun ukuran 3 gram dipatok Rp8.564.000, 5 gram Rp14.240.000, dan 10 gram mencapai Rp28.425.000.
Pada pecahan lebih besar, harga emas 25 gram tercatat Rp70.937.000, 50 gram Rp141.795.000, dan 100 gram menembus Rp283.512.000. Sementara itu, emas ukuran 250 gram dijual Rp708.515.000, 500 gram sebesar Rp1.416.820.000, dan 1 kilogram dipasarkan Rp2.833.600.000.
Selain produk reguler, Antam juga menghadirkan berbagai emas tematik yang umumnya dibanderol lebih tinggi. Gift Series ukuran 0,5 gram dijual Rp1.566.500 dan 1 gram Rp3.043.000. Sementara itu, edisi khusus Selamat Idul Fitri ukuran 5 gram mencapai Rp15.213.000. Untuk edisi Imlek, ukuran 8 gram dibanderol Rp23.998.800 dan 88 gram mencapai Rp261.281.600. Adapun Batik Seri III ukuran 10 gram dijual Rp29.430.000 dan 20 gram Rp58.060.000.
Tak hanya emas, Antam juga merilis harga perak. Perak murni ukuran 250 gram dibanderol Rp12.062.500, sedangkan 500 gram sebesar Rp23.325.000. Sementara itu, produk perak heritage ukuran 31,1 gram dijual Rp1.998.612 dan 186,6 gram sebesar Rp10.870.186.

