LUMINASIA.ID, JAKARTA - Produsen otomotif Jepang, Honda Motor Co., resmi membatalkan pengembangan dan produksi massal dua proyek kendaraan listrik sekaligus, yakni model hasil kolaborasi dengan Sony Group Corporation serta lini kendaraan listrik internal Seri 0.
Keputusan tersebut berdampak pada penghentian pengembangan sedan listrik Afeela 1 dan SUV listrik yang sebelumnya diperkenalkan ke publik, serta membatalkan rencana produksi massal dalam waktu dekat.
Dalam keterangan resminya, Honda menyebut perubahan strategi bisnis menjadi alasan utama penghentian proyek tersebut.
“Sebagai akibat dari penilaian ulang strategi elektrifikasi otomotif Honda dan mempertimbangkan perubahan di pasar kendaraan listrik, asumsi dasar operasi bisnis telah berubah secara fundamental,” demikian pernyataan resmi perusahaan.
Proyek Afeela Dihentikan, Arah Bisnis Dievaluasi
Model Afeela yang dikembangkan melalui perusahaan patungan Sony Honda Mobility Inc. sebelumnya digadang-gadang menjadi simbol kolaborasi teknologi dan otomotif antara Sony dan Honda.
Namun, dengan perubahan strategi tersebut, kedua perusahaan sepakat untuk menghentikan pengembangan dan peluncuran produk.
“Sony, Honda, dan Sony Honda Mobility telah memutuskan untuk meninjau kembali arah bisnis usaha patungan ini,” tulis pernyataan tersebut.
Keputusan ini sekaligus menandai berhentinya salah satu proyek ambisius di sektor kendaraan listrik yang sempat diperkenalkan di ajang teknologi global di Las Vegas.
Seri 0 Ikut Dibatalkan, Produksi Gagal Terwujud
Tak hanya Afeela, Honda juga memastikan pembatalan proyek kendaraan listrik internal Seri 0, termasuk model 0 Saloon dan 0 SUV yang sebelumnya direncanakan diproduksi di Amerika Serikat.
Padahal, kedua model tersebut sudah memasuki tahap persiapan produksi massal dan dijadwalkan meluncur dalam waktu dekat.
Pembatalan ini menunjukkan adanya pergeseran besar dalam strategi elektrifikasi Honda di tengah dinamika industri otomotif global.
Tekanan Bisnis Jadi Faktor Penentu
Honda mengakui bahwa kondisi bisnis otomotif saat ini menjadi tantangan serius yang memengaruhi keputusan strategis perusahaan.
“Bisnis otomotif Honda telah jatuh ke dalam situasi pendapatan yang sangat menantang karena berbagai faktor,” tulis perusahaan.
Selain itu, Honda juga menyoroti ketidakmampuan beradaptasi secara fleksibel terhadap perubahan pasar, serta penurunan profitabilitas kendaraan berbahan bakar bensin dan hybrid akibat kebijakan tarif baru.
Kondisi tersebut diperkirakan berdampak pada kinerja keuangan perusahaan hingga akhir tahun fiskal Maret 2026.
Industri EV Berubah, Strategi Dikaji Ulang
Langkah Honda ini mencerminkan tekanan yang tengah dihadapi industri kendaraan listrik global, di mana perubahan permintaan pasar dan biaya investasi yang tinggi memaksa produsen untuk meninjau ulang strategi mereka.
Dengan dihentikannya dua proyek besar ini, Honda diperkirakan akan lebih selektif dalam mengembangkan kendaraan listrik ke depan, termasuk menyesuaikan teknologi, investasi, serta model bisnis yang lebih berkelanjutan.
Meski demikian, perusahaan belum merinci langkah lanjutan terkait pengembangan kendaraan listrik berikutnya, termasuk nasib kerja sama dengan Sony dalam jangka panjang.

