LUMINASIA.ID, NASIONAL - Aktivitas erupsi Gunung Semeru kembali meningkat, namun perhatian kini bergeser bukan hanya pada kolom abu, melainkan ancaman yang bergerak di permukaan: awan panas dan aliran lahar di jalur sungai.
Dilansir Tempo, letusan yang terjadi pada Selasa, 7 April 2026 petang menghasilkan kolom abu setinggi sekitar 2.000 meter di atas puncak. Namun yang lebih mengkhawatirkan adalah luncuran Awan Panas Guguran (APG) sejauh 4,5 kilometer menuju arah tenggara, tepatnya ke kawasan Besuk Kobokan.
Meski tidak dilaporkan adanya dampak langsung terhadap permukiman, potensi bahaya justru tersembunyi di sepanjang aliran sungai yang berhulu dari puncak Semeru. Jalur-jalur seperti Besuk Kobokan, Besuk Bang, Besuk Kembar, hingga Besuk Sat menjadi koridor alami bagi material vulkanik yang bisa meluncur sewaktu-waktu, terutama saat hujan turun.
Status aktivitas gunung saat ini masih berada di Level III atau Siaga. Dalam kondisi ini, otoritas merekomendasikan larangan aktivitas di sektor tenggara hingga radius 13 kilometer dari puncak. Selain itu, area sempadan sungai sejauh 500 meter juga dinilai berisiko tinggi akibat potensi perluasan awan panas dan aliran lahar yang bisa mencapai hingga 17 kilometer.
Yang sering luput dari perhatian publik adalah bahwa bahaya Semeru tidak hanya datang saat erupsi besar terlihat jelas. Material vulkanik yang sudah terendap dapat kembali bergerak menjadi banjir lahar, terutama saat intensitas hujan meningkat. Artinya, ancaman bisa muncul bahkan saat gunung tampak “tenang”.
Dengan pola aktivitas yang fluktuatif, kewaspadaan berbasis wilayah—khususnya di jalur sungai—menjadi kunci mitigasi. Masyarakat di sekitar aliran sungai kini diminta tidak hanya memantau letusan, tetapi juga kondisi cuaca yang dapat memicu pergerakan material berbahaya dari puncak gunung.

