LUMINASIA.ID, NASIONAL - Fenomena Hujan Meteor Lyrids yang kembali mencapai puncaknya pada 22 April 2026 tidak hanya menjadi tontonan langit semata, tetapi juga menghidupkan kembali jejak panjang sejarah kosmik yang telah diamati manusia selama ribuan tahun.
Berbeda dari sudut pandang umum yang menyoroti keindahan visualnya, Lyrids justru menyimpan nilai ilmiah dan historis yang mendalam. Dilansir Detik, hujan meteor ini berasal dari sisa debu Komet Thatcher (C/1861 G1), yang setiap tahunnya dilintasi Bumi. Ketika partikel tersebut memasuki atmosfer, mereka terbakar dan menciptakan garis cahaya yang tampak dari permukaan bumi.
Nama “Lyrids” sendiri diambil dari rasi bintang Lyra, yang menjadi titik radian atau asal tampak meteor di langit. Namun, secara ilmiah, fenomena ini tidak terbatas pada satu titik pengamatan, melainkan dapat disaksikan di berbagai arah langit malam.
Yang membuat Lyrids istimewa bukan hanya kemunculannya yang rutin, tetapi juga statusnya sebagai salah satu hujan meteor tertua yang pernah dicatat dalam sejarah manusia. Catatan pengamatan Lyrids bahkan telah ditemukan sejak ribuan tahun lalu, menjadikannya sebagai “arsip hidup” hubungan manusia dengan fenomena luar angkasa.
Pada puncaknya, pengamat berpeluang menyaksikan sejumlah meteor per jam, terutama dari malam hingga menjelang fajar. Namun, intensitas ini sangat bergantung pada kondisi langit, seperti minimnya polusi cahaya dan cuaca yang cerah.
Fenomena ini secara tidak langsung juga menjadi pengingat bahwa interaksi antara Bumi dan benda langit bukanlah peristiwa baru, melainkan siklus alam semesta yang telah berlangsung jauh sebelum peradaban modern terbentuk. Lyrids, dalam hal ini, bukan hanya tontonan, tetapi juga narasi panjang tentang perjalanan kosmik yang terus berulang setiap tahun.

