Luminasia, Makassar – Raksa Urvi menyelenggarakan webinar “RU-ACT Series: Hutan Merdeka Lantebung dengan Semangat #MelawanDenganMenanam” pada Sabtu, 16 Agustus 2025. Kegiatan ini menjadi bagian dari kampanye RU-ACT (Raksa Urvi Action for Climate & Transition) dalam program We Got This World yang digagas WWF Singapura, sekaligus memberi ruang bagi masyarakat Lantebung untuk memperkenalkan Gerakan Hutan Merdeka.
Webinar berlangsung secara daring melalui Zoom pukul 14.00–16.00 WIB dengan Ranitya Nurlita, Founder Wastehub.id, sebagai moderator. Acara diawali dengan sambutan dari Michelle Angelini, Co-Founder Raksa Urvi yang akrab disapa Kak Michelle.
Dalam sambutannya, Michelle menegaskan bahwa masih banyak masyarakat yang belum sepenuhnya merdeka untuk hidup di lingkungan yang asri, meski Indonesia tiap tahun merayakan pesta kemerdekaan.
“Kita gak kerasa ya udah mau merayakan ulang tahun Indonesia yang ke-80 tahun di mana kita setiap tahunnya melihat kemeriahan pesta kemerdekaan Indonesia, meskipun kita tahu bahwa Indonesia ini masih belum sepenuhnya merdeka. Salah satunya kita masih menghadapi tantangan kerusakan lingkungan dan krisis iklim. Salah satu tantangan itu juga dihadapi teman-teman di seluruh Indonesia, khususnya di daerah Lantebung. Di Lantebung banyak lahan hijau yang makin berkurang sehingga masyarakat yang seharusnya mendapatkan kehidupan yang asri, tapi justru malah sebaliknya,” jelas Michelle.
Michelle juga mengajak peserta untuk membangun kesadaran menjaga lingkungan tanpa harus menunggu bencana datang, serta menjadikan webinar sebagai ajang kolaborasi.
“Di sini saya gak mau teman-teman datang ke webinar ini hanya sebagai peserta lalu ya sudah begitu saja. Saya ingin teman-teman menjadikan webinar sore hari ini sebagai wadah untuk saling berjejaring dan berkolaborasi dengan harapan semakin aware terhadap pelestarian lingkungan, kerusakan lingkungan, dan krisis iklim,” pungkasnya.
Usai sambutan, moderator Ranitya Nurlita atau Kak Lita mengadakan ice breaking sebelum memperkenalkan narasumber utama, yakni Ade Saskia atau Kak Ade, aktivis Ikatan Keluarga Lantebung (IKAL).
Kak Ade dikenal aktif di isu lingkungan, pernah magang di TLGF-UNEP Bali, terlibat sebagai tim lapangan LSM Sulawesi Tenggara, hingga pemetaan partisipatif wilayah adat AMAN Sulawesi Utara. Selain itu, ia juga seorang jurnalis warga di media Bollo.id berkat kepiawaiannya menulis dan memotret.
Dalam paparannya, Kak Ade menekankan pentingnya Lantebung sebagai benteng hijau Makassar. Menurut RPPLH, wilayah ini kaya hutan mangrove yang memiliki manfaat ekologis dan filosofis tinggi. Namun, Lantebung kerap menjadi incaran investor untuk proyek reklamasi, rel kereta, hingga kilang gas.
Kak Ade mengisahkan perlawanan komunitas lokal saat pandemi untuk menghentikan proyek tersebut.
“Saat itu, komunitas, masyarakat, dan anak-anak IKAL turun langsung memprotes pembalakan itu dengan memasang spanduk di lokasi pembalakan liar,” kenangnya.
Namun perjuangan itu tidak mudah.
“Di beberapa titik, saya dan teman-teman Lantebung mendapat ancaman karena tidak mau berdamai dengan pihak perusahaan. Walaupun ada masyarakat mendapat iming-iming, tapi IKAL tetap mengawal kasus ini sampai sekarang. Itu tersimpan di memori kami sebagai tamparan keras,” tambahnya.
Dari pengalaman tersebut lahirlah Gerakan Hutan Merdeka Lantebung dengan semangat melawan dengan menanam.
“Kami sadar, kami tidak bisa melakukan aksi protes besar. Yang kami bisa hanyalah menanam dan merawat mangrove di Lantebung,” jelas Kak Ade.
Gerakan ini telah berjalan lima tahun dan melahirkan berbagai inisiatif, termasuk Pondok Baca Lantebung bagi anak-anak.
“Di tahun kedua, kami menginisiasi Pondok Baca Lantebung dengan melibatkan anak-anak kecil di sekitar Lantebung untuk menggali potensi mereka. Kalau bukan mengenalkannya kepada mereka, maka siapa lagi?” ujarnya.
Ia juga menegaskan pentingnya mangrove bagi keberlangsungan hidup masyarakat.
“Mangrove sebagai benteng terakhir bagi kami di Lantebung, sungguh sangat penting karena menjaga kami dari bencana alam, menyerap polusi lima kali lebih efektif, menambah pendapatan masyarakat, serta memberi habitat bagi makhluk hidup. Secara filosofis, menanam mangrove meski penuh halangan juga dapat menambah tali persaudaraan,” tegasnya.
Sesi tanya jawab berlangsung interaktif dengan peserta dari berbagai daerah, tidak hanya Sulawesi Selatan. Di akhir, Kak Ade memberikan closing statement yang menginspirasi peserta agar merefleksikan kontribusi nyata untuk lingkungan di kampung halaman masing-masing.
“Saya akan menaruh cermin besar di depan saya dan bertanya: kamu mau jadi apa dan apa yang mau kamu lakukan? Dari situ saya menggali potensi saya, lalu mengaitkannya dengan lingkungan. Bagaimana saya bisa menyelamatkan lingkungan saya. Semoga itu jadi motivasi teman-teman untuk kembali membangun kampung masing-masing,” pungkasnya.
Ia menambahkan bahwa bekal membangun kampung tidak harus berupa uang, melainkan juga ilmu.
Acara ditutup dengan dokumentasi bersama, ucapan terima kasih kepada 10 media partner yang mendukung, antara lain Eco Etniku, Tallo Bersejarah, BPAN Sulsel, Aliansi Perdamaian, Wastehub.id, Ikatan Keluarga Lantebung, Rafflesia Ocean Rangers, Edu Event Makassar, Kebun Tetangga, dan Sikola Cendekia Pesisir.
Kak Michelle kemudian menyerahkan sertifikat apresiasi kepada Kak Ade sebagai narasumber. Moderator Kak Lita menutup kegiatan dengan mengingatkan peserta untuk mengisi tautan absensi sebagai syarat memperoleh sertifikat.
Webinar ini berlangsung interaktif dan berhasil menarik partisipasi peserta dari berbagai daerah di Indonesia, meneguhkan pesan bahwa semangat menjaga lingkungan bisa dimulai dari kampung sendiri.

