LUMINASIA.ID, JAKARTA – Investor saham pemula perlu memahami berbagai indikator sebelum memutuskan membeli atau menjual saham di pasar modal.
Salah satu indikator yang kerap menjadi perhatian adalah foreign flow, terutama ketika aksi jual bersih atau foreign net sell investor asing kembali membayangi pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).
PT BNI Sekuritas mengingatkan bahwa foreign flow saham bukanlah penentu tunggal arah pasar. Meski investor asing mencatat net sell sebesar Rp5,98 triliun pada periode 8–12 Juni 2026, kondisi tersebut tidak serta-merta membuat harga saham maupun IHSG akan terus melemah karena pasar saham Indonesia juga didukung oleh aktivitas investor domestik.
Direktur Retail Markets & Technology BNI Sekuritas, Teddy Wishadi, mengatakan investor perlu memahami foreign flow sebagai bagian dari analisis pasar, bukan sebagai sinyal otomatis untuk membeli atau menjual saham.
"Foreign flow menunjukkan arus dana investor asing yang masuk, keluar, atau mengalami penyesuaikan posisi. Tapi ini bukan sinyal untuk langsung beli atau jual saham," ujar Teddy Wishadi.
Foreign flow merupakan data yang mencatat arus masuk dan keluar dana investor asing di Bursa Efek Indonesia (BEI), sehingga dapat memberikan gambaran mengenai aktivitas investor global di pasar saham Indonesia.
Dalam analisis pasar saham, terdapat dua istilah yang paling sering digunakan, yakni Net Buy dan Net Sell.
Net Buy menunjukkan investor asing melakukan pembelian saham lebih besar dibandingkan penjualan sehingga dapat menjadi sinyal positif apabila didukung kenaikan harga saham dan volume transaksi.
Sebaliknya, Net Sell menunjukkan investor asing lebih banyak melepas saham dibanding membeli sehingga umumnya mencerminkan strategi pengurangan risiko, namun tidak selalu diikuti pelemahan harga saham.
Menurut Teddy, investor saham tidak boleh hanya terpaku pada data foreign flow ketika menentukan strategi investasi.
"Dalam praktiknya, IHSG tidak selalu bergerak searah dengan foreign flow. Pasar bisa naik saat asing net sell atau sebaliknya, tergantung kondisi sektor, sentimen domestik, dan faktor makroekonomi. Karena itu, foreign flow lebih tepat digunakan sebagai indikator tambahan, bukan dasar utama keputusan investasi," jelasnya.
Ia mencontohkan, sepanjang awal hingga pertengahan 2026 pasar saham Indonesia beberapa kali mengalami aksi jual bersih investor asing, termasuk net sell Rp5,98 triliun pada periode 8–12 Juni 2026.
Meski demikian, IHSG masih mampu bertahan bahkan bergerak sideways pada beberapa fase karena ditopang kuatnya aktivitas investor domestik, sehingga membuktikan bahwa pergerakan pasar saham tidak hanya dipengaruhi oleh dana asing.
BNI Sekuritas menilai investor, khususnya pemula, perlu mengombinasikan informasi foreign flow dengan analisis fundamental emiten, kondisi ekonomi, prospek sektor usaha, serta sentimen pasar sebelum memutuskan membeli maupun menjual saham.
Langkah tersebut dinilai dapat membantu investor mengambil keputusan investasi saham yang lebih rasional dan tidak mudah terpengaruh oleh pergerakan jangka pendek di pasar modal.
Untuk mempermudah analisis, BNI Sekuritas juga menyediakan fitur Foreign Summary pada aplikasi BIONS by BNI Sekuritas.
Melalui fitur tersebut, investor dapat memantau data Foreign Buy, Foreign Sell, Net Buy, dan Net Sell dalam satu tampilan yang sederhana dan terstruktur sehingga lebih mudah membaca pergerakan dana asing di pasar saham Indonesia.
"Investor perlu memahami foreign flow sebagai bagian dari proses analisis pasar sehingga keputusan investasi saham tidak hanya didasarkan pada aktivitas investor asing, tetapi juga mempertimbangkan kondisi fundamental dan prospek jangka panjang," tutup Teddy.

