Luminasia, Makassar, 13 September 2025 – Festival Media Freedom!! yang digelar di Benteng Rotterdam Makassar memasuki hari kedua dengan rangkaian diskusi, lokakarya, pemutaran film, hingga pertunjukan teater dan orasi publik. Festival yang digagas oleh Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Makassar bersama mitra ini mengangkat tema ecological justice, expression, dan press, menghadirkan beragam isu mulai dari kebebasan pers, krisis ekologi, hingga perjuangan kelompok terpinggirkan.
Sejak pagi, sejumlah kegiatan berlangsung paralel di berbagai ruangan Benteng Rotterdam. Diskusi tentang masyarakat pesisir menjaga laut, konflik agraria di Indonesia, hingga perjuangan jemaat Ahmadiyah dalam membangun pemberitaan yang adil, menjadi ruang refleksi bersama peserta. Mini sinema, workshop keamanan jurnalis perempuan, hingga pameran instalasi turut mewarnai suasana festival.
Salah satu sesi penting adalah diskusi buku Menuju Masyarakat Inklusif yang menghadirkan aktivis Ornop Judy Rahardjo dan penulis sekaligus kreator digital Sasti Gotama. Diskusi ini dimoderatori oleh Alicya Qadriyyah dari AJI Makassar, menyoroti pentingnya inklusivitas dalam membangun masyarakat yang adil.
Menjelang malam, panggung utama festival dipenuhi suara kritis. Sebelum penampilan lainnya dimulai, Dian Aditya Ning Lestari (Diku) menyampaikan sikap tegas terhadap komentar MC yang melontarkan lelucon soal perempuan membutuhkan izin pacar untuk hadir di festival. “Jadi saya naik untuk mengoreksi MC sedikit yang ngasih 'jokes' soal izin pacar pergi ke Festmed, saya ingatkan, untuk pengembangan diri, perempuan tidak butuh izin laki-laki untuk apapun, termasuk pergi ke Festmed ini. Perempuan zaman sekarang harus kejar cita-cita, sekolah S2, kejar mimpi, tanpa izin laki-laki. Begitu pula laki-laki aktivitasnya tidak bisa dikontrol perempuan,” ujar Diku yang disambut tepuk tangan audiens.
Setelah itu, panggung bergulir menjadi ruang suara bagi kelompok yang selama ini kerap diabaikan. Perempuan dari Takalar menyuarakan perlawanan atas perampasan tanah mereka. Orasi tentang tanah Papua yang hilang akibat proyek food estate menggema, mengingatkan publik pada krisis tanah adat yang terus terjadi.
Tiga transpuan tampil dengan refleksi kemanusiaan, menekankan bahwa keberagaman identitas gender adalah bagian dari perjuangan untuk martabat manusia. Tak kalah kuat, penampilan teaterikal menyingkap kenyataan tentang kotor dan teracuninya tanah serta air di Bantaeng akibat aktivitas korporasi.
Festival Media Freedom!! tahun ini menghadirkan ruang lintas isu dan solidaritas, mempertemukan jurnalis, aktivis, seniman, dan masyarakat sipil. Suara-suara yang terangkat pada hari kedua festival menegaskan bahwa perjuangan kebebasan berekspresi dan keadilan ekologis tidak bisa dilepaskan dari perjuangan hak-hak perempuan, kelompok minoritas, serta komunitas yang menghadapi perampasan tanah dan krisis lingkungan.

